Sabtu, 02 April 2016

Namaku Dara 1



Namamu adalah Wigar Ramadhan, usiamu sekarang 26 tahun, usia yang kamu anggap sudah matang untuk meminang seorang wanita dan sekarangpun kamu sudah siap untuk menikah. Kamu sekarang bekerja di salah satu bank swasta terkenal. Kamu memilih bekerja di bank tersebut supaya tetap dekat dengan kota kelahiranmu. Kota kelahiranmu sendiri hanya berjarak 20km dari bank tempatmu bekerja, supaya kamu bisa menjaga orang tuamu juga. Kamu pun memutuskan untuk tinggal dirumah saja dari pada ngekos karena jarak yang tidak terlalu jauh.

Orang tuamu sendiri sudah mendesak kamu agar segera menikah karena mereka udah ngebet pengen ngegendong cucu. Ya, kamu adalah anak pertama dari 3 bersaudara, jadi wajar kalau orang tuamu menginginkan yang demikian. Beberapa bulan kemudian kamu menjalin hubungan dengan seorang gadis, Dara namanya. Dara adalah gadis yang sempurna bagimu, dengan rambutnya yang hitam lurus serta mata yang agak sipit (mirip Maudy Ayunda) ditambah juga tubuhnya yang langsing menjadikannya gadis yang sangat anggun di matamu.

Dara bukanlah orang yang baru kamu kenal, kamu sudah mengenalnya sejak kuliah di salah satu universitas di Malang, orang-orang menyebutnya Unibra. Walaupun kalian berbeda fakultas dan Dara berada empat semester dibawahmu, namun takdir mempertemukan kalian berdua. Kalian memiliki hobby yang sama yaitu menulis cerita atau puisi di salah satu taman di Unibra. Jika kamu mengingat-ngingat awal kalian berkenalan pasti kamu akan tersenyum sendiri. Waktu itu di siang yang cerah kamu sedang menulis sebuah puisi di salah satu taman di Unibra, tempat favoritmu untuk menulis. “Tenang banget hari ini, mungkin karena semester 7 baru dimulai dua minggu lagi.” batinmu. Kamu memang sengaja datang ke Malang dua minggu sebelum perkuliahan dimulai karena kamu berpikir tak produktif jika dirumah terus, dan hitung-hitung dapet uang saku juga, lumayan kan.

Tak berapa lama kemudian hadir lah sosok wanita yang gak asing lagi bagimu. Gadis yang dari semester lalu juga sering duduk-duduk dan (sepertinya) mengerjakan tugasnya di taman itu juga. Kamu pun melihatnya mengeluarkan sebuah buku, “Apa itu buku diary? Dasar cewek.” pikirmu. “Tapi imut juga kalo dia lagi pakai kacamata.” batinmu lagi. Kamu pun melanjutkan aktivitasmu lagi, gadis itu pun demikian.

Keesokan harinya kamu ke taman itu lagi dan dengan tujuan yang sama, menulis puisi atau cerpen tentunya. Dan tak lama kemudian gadis itu pun datang juga. Seperti biasa dia mengeluarkan buku ‘diary’ nya dan memakai kacamata bacanya, dan langsung sibuk menulis di ‘diary’-nya tersebut. Kamu baru tersadar sudah terpaku bengong padanya selama bermenit-menit. “Kenapa aku ini? Hahaha” batinmu. Kamu pun mulai untuk menulis. Awalnya kamu bungung mau menulis apa, akhirnya kamu putuskan untuk menulis puisi, judulnya “Cinta Diujung Spatula.” Kamu mulai menulis baris per baris, kamu biarkan pikiran dan tanganmu bekerja secara tidak sadar, dan kamu baru sadar kalau pusis yang kamu buat adalah puisi cinta. “Yaahh,,, kok puisi cinta lagi.” batinmu. Padahal kamu tidak pernah membuat cerpen atau puisi tentang cinta sebelumnya, namun sejak pertengahan semester kemarin kamu mulai membuat puisi-puisi atau cerpen-cerpen romantis. “Apa karena dia?” pikirmu sambil terpaku pada cewek tadi, entah berapa lama kamu terpaku pada cewek tersebut.

Keesokan harinya kamu ke taman lagi, untuk melakukan hobbymu. Dan cewek itu belum ada disitu. Kamu pun mulai mengeluarkan buku, ballpoint, dan MP3 playermu. Kamu mulai menulis, entah kenapa banyak inspiramu yang kamu punya hari ini sampai-sampai kamu terhanyut dalam ceritamu sendiri. Sekitar dua jam kemudian ceritamu selesai, kamu menengadahkan kepalamu dan mengangkat kedua tanganmu, “Akhirnya selesai!” batinmu. Dan kamu baru menyadari wanita yang biasanya duduk diseberang tempat dudukmu terpaku menatapmu. Pandangan kalian saling bertemu, dia pun tertunduk malu. Tapi kamu tetap terpana padanya, “Apa dia sering menatapku juga?” batinmu. Beberapa saat kemudian kamu mengumpulkan niat untuk berkenalan dengannya. Akhirnya kamu pun memberanikan diri berkenalan dengannya. Kamu menyapanya, menanyakan namanya, menanyakan dari mana dia berasal, menanyakan dia angkatan berapa, menanyakan dia jurusan apa, dll. Dari situ kamu tau kalau kalian berasal dari kota yang sama. “Kak Wigar ngapain tiap hari nulis diary disini?” tanya Dara padamu. “Oh, ini bukan buku diary, ini buku puisi sama cerpen gitu, ya gitulah, aku suka nulis cerpen sama puisi. Kamu tuh yang suka nulis diary disini.” jawabku.  “Ini bukan buku diary kak, aku juga suka nulis puisi kalo disini.” bantahnya sambil menunjukkan buku itu ke kamu. Dan akhirnya kamu berteman akrab dengan Dara, kamu sering keluar bareng dia, dan yang terpenting sekarang kamu ada yang nemenin di taman.

Begitulah awal pertemuanmu dengan Dara, kalian berdua akrab banget. Namun kamu dan dia gak pernah pacaran sampai akhirnya enam bulan yang lalu kamu mengatakan perasaanmu ke Dara, Dara nerima kamu. Lalu tiga bulan yang lalu kamu melamar Dara, dirumahnya Dara, kamu bilang akan menjaga Dara sampai kamu dan dia menua, kamu berjanji akan menjadi imam yang baik buat dia, dan kamu dan Dara sudah menentukan tanggal pernikahan kalian, empat bulan dari hari ini.

Wigar terlihat bingung, dengan wajahnya yang pucat dan bibirnya yang kering pecah-pecah dia bertanya padaku, “Anda siapa?” Aku tak kuasa menahan kesedihan ini. Aku keluar dari kamarnya, dan menangis sejadi-jadinya di koridor. Entah cerita apa lagi yang harus kuceritakan padanya, entah pengalaman manis mana lagi yang aku ceritakan padanya agar dia bisa mengingat siapa dirinya, dan mengingatku kembali. Tuhan, aku tak tau apa rencana-Mu.

... To Be Continued...

02 April 2016

Drunken Crap 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar