Namamu adalah Wigar Ramadhan, usiamu
sekarang 26 tahun, usia yang kamu anggap sudah matang untuk meminang seorang
wanita dan sekarangpun kamu sudah siap untuk menikah. Kamu sekarang bekerja di
salah satu bank swasta terkenal. Kamu memilih bekerja di bank tersebut supaya
tetap dekat dengan kota kelahiranmu. Kota kelahiranmu sendiri hanya berjarak
20km dari bank tempatmu bekerja, supaya kamu bisa menjaga orang tuamu juga. Kamu
pun memutuskan untuk tinggal dirumah saja dari pada ngekos karena jarak yang
tidak terlalu jauh.
Orang tuamu sendiri sudah mendesak
kamu agar segera menikah karena mereka udah ngebet pengen ngegendong cucu. Ya,
kamu adalah anak pertama dari 3 bersaudara, jadi wajar kalau orang tuamu
menginginkan yang demikian. Beberapa bulan kemudian kamu menjalin hubungan
dengan seorang gadis, Dara namanya. Dara adalah gadis yang sempurna bagimu,
dengan rambutnya yang hitam lurus serta mata yang agak sipit (mirip Maudy
Ayunda) ditambah juga tubuhnya yang langsing menjadikannya gadis yang sangat
anggun di matamu.
Dara bukanlah orang yang baru kamu
kenal, kamu sudah mengenalnya sejak kuliah di salah satu universitas di Malang,
orang-orang menyebutnya Unibra. Walaupun kalian berbeda fakultas dan Dara
berada empat semester dibawahmu, namun takdir mempertemukan kalian berdua.
Kalian memiliki hobby yang sama yaitu menulis cerita atau puisi di salah satu
taman di Unibra. Jika kamu mengingat-ngingat awal kalian berkenalan pasti kamu
akan tersenyum sendiri. Waktu itu di siang yang cerah kamu sedang menulis
sebuah puisi di salah satu taman di Unibra, tempat favoritmu untuk menulis.
“Tenang banget hari ini, mungkin karena semester 7 baru dimulai dua minggu
lagi.” batinmu. Kamu memang sengaja datang ke Malang dua minggu sebelum
perkuliahan dimulai karena kamu berpikir tak produktif jika dirumah terus, dan
hitung-hitung dapet uang saku juga, lumayan kan.
Tak berapa lama kemudian hadir lah
sosok wanita yang gak asing lagi bagimu. Gadis yang dari semester lalu juga
sering duduk-duduk dan (sepertinya) mengerjakan tugasnya di taman itu juga. Kamu
pun melihatnya mengeluarkan sebuah buku, “Apa itu buku diary? Dasar cewek.”
pikirmu. “Tapi imut juga kalo dia lagi pakai kacamata.” batinmu lagi. Kamu pun
melanjutkan aktivitasmu lagi, gadis itu pun demikian.
Keesokan harinya kamu ke taman itu
lagi dan dengan tujuan yang sama, menulis puisi atau cerpen tentunya. Dan tak
lama kemudian gadis itu pun datang juga. Seperti biasa dia mengeluarkan buku
‘diary’ nya dan memakai kacamata bacanya, dan langsung sibuk menulis di
‘diary’-nya tersebut. Kamu baru tersadar sudah terpaku bengong padanya selama
bermenit-menit. “Kenapa aku ini? Hahaha” batinmu. Kamu pun mulai untuk menulis.
Awalnya kamu bungung mau menulis apa, akhirnya kamu putuskan untuk menulis
puisi, judulnya “Cinta Diujung Spatula.” Kamu mulai menulis baris per baris,
kamu biarkan pikiran dan tanganmu bekerja secara tidak sadar, dan kamu baru
sadar kalau pusis yang kamu buat adalah puisi cinta. “Yaahh,,, kok puisi cinta
lagi.” batinmu. Padahal kamu tidak pernah membuat cerpen atau puisi tentang
cinta sebelumnya, namun sejak pertengahan semester kemarin kamu mulai membuat
puisi-puisi atau cerpen-cerpen romantis. “Apa karena dia?” pikirmu sambil
terpaku pada cewek tadi, entah berapa lama kamu terpaku pada cewek tersebut.
Keesokan harinya kamu ke taman lagi, untuk
melakukan hobbymu. Dan cewek itu belum ada disitu. Kamu pun mulai mengeluarkan
buku, ballpoint, dan MP3 playermu. Kamu mulai menulis, entah kenapa banyak
inspiramu yang kamu punya hari ini sampai-sampai kamu terhanyut dalam ceritamu
sendiri. Sekitar dua jam kemudian ceritamu selesai, kamu menengadahkan kepalamu
dan mengangkat kedua tanganmu, “Akhirnya selesai!” batinmu. Dan kamu baru
menyadari wanita yang biasanya duduk diseberang tempat dudukmu terpaku menatapmu.
Pandangan kalian saling bertemu, dia pun tertunduk malu. Tapi kamu tetap
terpana padanya, “Apa dia sering menatapku juga?” batinmu. Beberapa saat
kemudian kamu mengumpulkan niat untuk berkenalan dengannya. Akhirnya kamu pun
memberanikan diri berkenalan dengannya. Kamu menyapanya, menanyakan namanya,
menanyakan dari mana dia berasal, menanyakan dia angkatan berapa, menanyakan
dia jurusan apa, dll. Dari situ kamu tau kalau kalian berasal dari kota yang
sama. “Kak Wigar ngapain tiap hari nulis diary disini?” tanya Dara padamu. “Oh,
ini bukan buku diary, ini buku puisi sama cerpen gitu, ya gitulah, aku suka
nulis cerpen sama puisi. Kamu tuh yang suka nulis diary disini.” jawabku. “Ini bukan buku diary kak, aku juga suka nulis
puisi kalo disini.” bantahnya sambil menunjukkan buku itu ke kamu. Dan akhirnya
kamu berteman akrab dengan Dara, kamu sering keluar bareng dia, dan yang
terpenting sekarang kamu ada yang nemenin di taman.
Begitulah awal pertemuanmu dengan
Dara, kalian berdua akrab banget. Namun kamu dan dia gak pernah pacaran sampai
akhirnya enam bulan yang lalu kamu mengatakan perasaanmu ke Dara, Dara nerima
kamu. Lalu tiga bulan yang lalu kamu melamar Dara, dirumahnya Dara, kamu bilang
akan menjaga Dara sampai kamu dan dia menua, kamu berjanji akan menjadi imam
yang baik buat dia, dan kamu dan Dara sudah menentukan tanggal pernikahan
kalian, empat bulan dari hari ini.
Wigar terlihat bingung, dengan
wajahnya yang pucat dan bibirnya yang kering pecah-pecah dia bertanya padaku,
“Anda siapa?” Aku tak kuasa menahan kesedihan ini. Aku keluar dari kamarnya,
dan menangis sejadi-jadinya di koridor. Entah cerita apa lagi yang harus
kuceritakan padanya, entah pengalaman manis mana lagi yang aku ceritakan
padanya agar dia bisa mengingat siapa dirinya, dan mengingatku kembali. Tuhan,
aku tak tau apa rencana-Mu.
... To Be Continued...
02 April 2016
Drunken Crap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar