Sabtu, 02 April 2016

Kamar Teman Kos Ku

By Ramd

Kebetulan liburan semester kali ini semua teman kosku telah mudik. Tersisa aku sendiri menempati bangunan kos ini. Layaknya bangunan tua yang ditinggalkan cuma bisa terdengar desis angin yang berhembus melewati lorong koridor sepanjang bangunan. Aku yang anak perantauan tidak pulang seperti kebanyakan teman-teman kosku. Salah satu temanku yang bernama Andre menitipkan kamarnya kepadaku. Sebelum dia pergi dia berpesan kalau temannya akan menginap dikamarnya akhir bulan nanti. Namun dia mengatakan satu hal yang membuatku sangat penasaran hingga sekarang. Katanya, jangan pernah dibuka dan jangan pernah tidur dikamar kosnya.
Menjelang malam aku bersiap berkeliling kos untuk menyalakan lampu. Hujan deras terdengar kencang mengguyur kos ini. Salah satu hal yang tidak aku suka adalah kamar kos ku yang langit-langitnya bocor. Lebih parahnya kemarin salah satu langit-langitnya roboh. Aku komplain dengan pemilik kos karena robohnya langit-langit itu telah menghancuran sebagian barang pribadiku namun sampai sekarang belum ada tindak dari si pemilik. Malam inipun kamarku banjir kembali dan tentu saja tidak bisa ditempati.
Lalu aku kepikiran untuk menggunakan kamar kos nya Andre. Sebenarnya aku sadar dengan pesan Andre sebelumnya, namun sekarang sedang emergensi. Aku pun berjalan ke arah kamarnya yang terletak di ujung koridor. Mengeluarkan kunci duplikat yang diberikan Andre atas dipercayanya diriku mengurus kamarnya maka pintu kamar ini pun terbuka. Setelah membukanya aku pun masuk seraya menyalakan lampu.
Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke kamarnya Andre. Sebenarnya banyak kesempatan untuk masuk kesini tapi karena kata Andre dilarang dibuka jadi tidak pernah ku usik sekalipun. Lagian aku lebih suka menghabiskan waktu dikamarku sendiri daripada dikamar orang lain.
Kamar ini tidak terlalu berbeda dari kamarku. Tampak lemari buku yang buku-bukunya tertata rapi disebelah kiri ruangan mengingatkanku kalau Andre memang suka membaca. Disebelah kanan ada kursi serta meja belajar yang diatasnya berserakan kertas-kertas tulisan, meja ini mengarah ke jendela. Didepan terdapat lemari pakaian dan disampingnya ada gitar si Andre. Lalu terdapat kasur tanpa dipan yang kelihatan sangat empuk. Inilah tempat aku akan beristirahat malam ini pikirku.
Aku mematikan lampu dikamar Andre dan masuk ke dalam selimut di kasur. Dengan cepat aku tertidur melepas lelah hari itu. Tiba-tiba aku terbangun. Tidak tahu jam berapa tapi kutaksir mungkin masih sekitar tengah malam. Aku masih setengah sadar ditengah gelapnya kamar ini. Aku pun kembali menarik selimutku berniat untuk tidur karena mataku sangat berat malam itu. Namun sebelum aku tertidur, aku seperti melihat sesosok hitam yang juga tidur di lantai samping kasur. Malam itu aku tidak bisa berpikir dengan baik dan anehnya aku kembali terlelap.
Besok pagi aku beranjak dari tempat tidur dan saat aku ingin keluar dari kamar aku baru sadar kalau di balik pintu terdapat cermin yang lumayan besar. Tidak ada yang banyak aku lakukan dikosan ini. Aku cuma bermain gitar Andre aja seharian ini menghabiskan hari. Lalu siang pun dengan cepat berganti malam. Kali ini setelah aku mematikan lampu aku merasa seperti ada seseorang yang mengawasiku namun tidak ada seorang pun dikamar ini.
Aku masuk kembali kedalam selimut dan mencoba untuk mengabaikan perasaan was-was yang tadi muncul. Malam ini sebelum aku terlelap dalam posisi membelakangi pintu menghadap kedinding aku mendengar suara melangkah perlahan mendekat kearahku dan berhenti didekatku. Aku ragu bercampur takut untuk menengok kebelakang. Pikirku apakah dia berbaring lagi dilantai seperti kemarin.
Malam selanjutnya juga terjadi hal demikian. Aku merasa ada seseorang yang mengawasiku dikamar ini. Dan ketika aku mulai tidur, disampingku seperti ada seseorang yang ikut tidur-tiduran dilantai. Sampai suatu malam aku terbangun dan melihat ada yang sedang duduk dikursi menghadap ke arah jendela. Namun setiap aku mau memikirkan atau bertindak rasa kantuk menyerang jiwaku dan membuatku terlelap.
Malam berikutnya aku terkejut dibangunkan oleh suara genjrengan gitar. Aku mendengar ada seseorang yang sedang memainkan gitar dibalakangku. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri dan sekujur tubuhku merinding. Aku takut untuk menengok ke sumber suara, jadi aku masuk bersembunyi kedalam selimut. Namun suara gitar itu semakin kencang mendekat ke arahku. Alunan musik yang tidak beraturan itu kadang hilang dan kadang muncul menghantuiku.
Besoknya aku terbangun dan merasakan tubuhku cukup lelah akibat sering terbangun terganggu dengan musik gitar kemarin. Hari ini aku mengecek keadaan kamar ini mencari tahu kejadian apa yang kualami kemarin. Kejadian beberapa malam ini tidak logis dan sulit diterima akal sehat. Aku kepikiran terus sampai akhirnya malam pun tiba.
Malam ini lampu tidak aku matikan. Aku berencana untuk pura-pura tidur, karena disamping melawan rasa takut aku juga ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi tiap aku tertidur dikamar ini. Detik jam terus berbunyi dan tidak terasa sudah masuk tengah malam. Tidak ada kejadian apa-apa, aku sudah mulai benar-benar mengantuk. Sampai tiba-tiba lampu kamar mati. Aku kaget karena kegelapan langsung menelanku malam itu.
Beberapa menit kemudian aku mendengar suara langkah mendekat kearahku. Sambil mengernyitkan mata aku melihat sekitar namun tidak terlihat apa-apa karena gelap. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan rasa sesuatu benda keras mendarat ditubuhku. Setelah kuraba ternyata itu adalah buku-buku. Aku bingung kenapa buku itu bisa jatuh diatasku padahal jarak lemari buku tidak sedekat itu dengan kasur. Hal ini membuatku berpikir yang tidak-tidak, sampai suatu ketika aku merasakan ada seseorang yang mengambil buku-buku itu dari atas selimutku. Aku jadi semakin ketakutan, aku mendengarkan suara ‘srek srek srek’ dari sampingku. Oh tuhan aku berdoa tanpa henti meminta pertolongan.
‘Tik tok tik tok’
Suara detik jam malam ini di ikuti suara detak jantungku yang semakin cepat dan berdentum keras diselimuti ketakutan.
Aku mulai merasakan ada gerakan kasar yang melintas diatas selimutku. Gerakan itu mengambil buku-buku yang berserakan. Belum selesai dikejutkan oleh gerakan itu tiba-tiba ada suara muncul berbisik di telingaku.
“Hihihihi.”
Sontak aku kaget dan tiba-tiba lampu menyala menampakkan makhluk hitam berbulu berwajah manusia disampingku yang matanya merah menyala sambil tersenyum horor. Tidak sempat menghela nafas lampu kembali mati dan aku berteriak sejadi-jadinya. Entah apa yang terjadi sepertinya aku pingsan saat itu karena hari tiba-tiba sudah pagi saja.
Aku masih merinding dengan kejadian malam tadi apalagi mengingat makhluk hitam itu. Dengan segera aku bangkit dari tempat tidur dan menyalakan lampu karena biarpun pagi kamar ini masih sedikit gelap. Lalu aku berniat keluar dari kamar ini dan tanpa sengaja melihat ke arah cermin besar dibalik pintu. Aku melihat pantulan diriku dan makhluk hitam seram malam tadi tepat berdiri dibelakangku. Namun entah mengapa ketakutanku menghilang seketika. Seperti penyakit yang menemukan obatnya, kegelisahan, rasa was-was dalam diriku telah terlepaskan semuanya. Setelah melihat sosok hitam dibelakangku tersebut aku perlahan mengenali wajahnya yang masam, putih, pucat pasi tersebut. Dia adalah teman kos ku Andre, seseorang yang suka mengurung diri dikamar, seseorang yang jarang berkomunikasi dengan sesama kecuali denganku, dan seseorang yang sebulan lalu meninggal bunuh diri di kamar ini.
-END-

2 April 2016

RAMD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar