By Ramd
Kebetulan liburan semester kali ini semua teman kosku telah mudik. Tersisa aku sendiri menempati bangunan kos ini. Layaknya bangunan tua yang ditinggalkan cuma bisa terdengar desis angin yang berhembus melewati lorong koridor sepanjang bangunan. Aku yang anak perantauan tidak pulang seperti kebanyakan teman-teman kosku. Salah satu temanku yang bernama Andre menitipkan kamarnya kepadaku. Sebelum dia pergi dia berpesan kalau temannya akan menginap dikamarnya akhir bulan nanti. Namun dia mengatakan satu hal yang membuatku sangat penasaran hingga sekarang. Katanya, jangan pernah dibuka dan jangan pernah tidur dikamar kosnya.
Kebetulan liburan semester kali ini semua teman kosku telah mudik. Tersisa aku sendiri menempati bangunan kos ini. Layaknya bangunan tua yang ditinggalkan cuma bisa terdengar desis angin yang berhembus melewati lorong koridor sepanjang bangunan. Aku yang anak perantauan tidak pulang seperti kebanyakan teman-teman kosku. Salah satu temanku yang bernama Andre menitipkan kamarnya kepadaku. Sebelum dia pergi dia berpesan kalau temannya akan menginap dikamarnya akhir bulan nanti. Namun dia mengatakan satu hal yang membuatku sangat penasaran hingga sekarang. Katanya, jangan pernah dibuka dan jangan pernah tidur dikamar kosnya.
Menjelang malam aku bersiap berkeliling
kos untuk menyalakan lampu. Hujan deras terdengar kencang mengguyur kos
ini. Salah satu hal yang tidak aku suka adalah kamar kos ku yang
langit-langitnya bocor. Lebih parahnya kemarin salah satu
langit-langitnya roboh. Aku komplain dengan pemilik kos karena robohnya
langit-langit itu telah menghancuran sebagian barang pribadiku namun
sampai sekarang belum ada tindak dari si pemilik. Malam inipun kamarku
banjir kembali dan tentu saja tidak bisa ditempati.
Lalu aku kepikiran untuk menggunakan
kamar kos nya Andre. Sebenarnya aku sadar dengan pesan Andre sebelumnya,
namun sekarang sedang emergensi. Aku pun berjalan ke arah kamarnya yang
terletak di ujung koridor. Mengeluarkan kunci duplikat yang diberikan
Andre atas dipercayanya diriku mengurus kamarnya maka pintu kamar ini
pun terbuka. Setelah membukanya aku pun masuk seraya menyalakan lampu.
Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke
kamarnya Andre. Sebenarnya banyak kesempatan untuk masuk kesini tapi
karena kata Andre dilarang dibuka jadi tidak pernah ku usik sekalipun.
Lagian aku lebih suka menghabiskan waktu dikamarku sendiri daripada
dikamar orang lain.
Kamar ini tidak terlalu berbeda dari
kamarku. Tampak lemari buku yang buku-bukunya tertata rapi disebelah
kiri ruangan mengingatkanku kalau Andre memang suka membaca. Disebelah
kanan ada kursi serta meja belajar yang diatasnya berserakan
kertas-kertas tulisan, meja ini mengarah ke jendela. Didepan terdapat
lemari pakaian dan disampingnya ada gitar si Andre. Lalu terdapat kasur
tanpa dipan yang kelihatan sangat empuk. Inilah tempat aku akan
beristirahat malam ini pikirku.
Aku mematikan lampu dikamar Andre dan
masuk ke dalam selimut di kasur. Dengan cepat aku tertidur melepas lelah
hari itu. Tiba-tiba aku terbangun. Tidak tahu jam berapa tapi kutaksir
mungkin masih sekitar tengah malam. Aku masih setengah sadar ditengah
gelapnya kamar ini. Aku pun kembali menarik selimutku berniat untuk
tidur karena mataku sangat berat malam itu. Namun sebelum aku tertidur,
aku seperti melihat sesosok hitam yang juga tidur di lantai samping
kasur. Malam itu aku tidak bisa berpikir dengan baik dan anehnya aku
kembali terlelap.
Besok pagi aku beranjak dari tempat tidur
dan saat aku ingin keluar dari kamar aku baru sadar kalau di balik
pintu terdapat cermin yang lumayan besar. Tidak ada yang banyak aku
lakukan dikosan ini. Aku cuma bermain gitar Andre aja seharian ini
menghabiskan hari. Lalu siang pun dengan cepat berganti malam. Kali ini
setelah aku mematikan lampu aku merasa seperti ada seseorang yang
mengawasiku namun tidak ada seorang pun dikamar ini.
Aku masuk kembali kedalam selimut dan
mencoba untuk mengabaikan perasaan was-was yang tadi muncul. Malam ini
sebelum aku terlelap dalam posisi membelakangi pintu menghadap kedinding
aku mendengar suara melangkah perlahan mendekat kearahku dan berhenti
didekatku. Aku ragu bercampur takut untuk menengok kebelakang. Pikirku
apakah dia berbaring lagi dilantai seperti kemarin.
Malam selanjutnya juga terjadi hal
demikian. Aku merasa ada seseorang yang mengawasiku dikamar ini. Dan
ketika aku mulai tidur, disampingku seperti ada seseorang yang ikut
tidur-tiduran dilantai. Sampai suatu malam aku terbangun dan melihat ada
yang sedang duduk dikursi menghadap ke arah jendela. Namun setiap aku
mau memikirkan atau bertindak rasa kantuk menyerang jiwaku dan membuatku
terlelap.
Malam berikutnya aku terkejut dibangunkan
oleh suara genjrengan gitar. Aku mendengar ada seseorang yang sedang
memainkan gitar dibalakangku. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri dan sekujur
tubuhku merinding. Aku takut untuk menengok ke sumber suara, jadi aku
masuk bersembunyi kedalam selimut. Namun suara gitar itu semakin kencang
mendekat ke arahku. Alunan musik yang tidak beraturan itu kadang hilang
dan kadang muncul menghantuiku.
Besoknya aku terbangun dan merasakan
tubuhku cukup lelah akibat sering terbangun terganggu dengan musik gitar
kemarin. Hari ini aku mengecek keadaan kamar ini mencari tahu kejadian
apa yang kualami kemarin. Kejadian beberapa malam ini tidak logis dan
sulit diterima akal sehat. Aku kepikiran terus sampai akhirnya malam pun
tiba.
Malam ini lampu tidak aku matikan. Aku
berencana untuk pura-pura tidur, karena disamping melawan rasa takut aku
juga ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi tiap aku tertidur
dikamar ini. Detik jam terus berbunyi dan tidak terasa sudah masuk
tengah malam. Tidak ada kejadian apa-apa, aku sudah mulai benar-benar
mengantuk. Sampai tiba-tiba lampu kamar mati. Aku kaget karena kegelapan
langsung menelanku malam itu.
Beberapa menit kemudian aku mendengar
suara langkah mendekat kearahku. Sambil mengernyitkan mata aku melihat
sekitar namun tidak terlihat apa-apa karena gelap. Tiba-tiba aku
dikejutkan dengan rasa sesuatu benda keras mendarat ditubuhku. Setelah
kuraba ternyata itu adalah buku-buku. Aku bingung kenapa buku itu bisa
jatuh diatasku padahal jarak lemari buku tidak sedekat itu dengan kasur.
Hal ini membuatku berpikir yang tidak-tidak, sampai suatu ketika aku
merasakan ada seseorang yang mengambil buku-buku itu dari atas
selimutku. Aku jadi semakin ketakutan, aku mendengarkan suara ‘srek srek
srek’ dari sampingku. Oh tuhan aku berdoa tanpa henti meminta
pertolongan.
‘Tik tok tik tok’
Suara detik jam malam ini di ikuti suara detak jantungku yang semakin cepat dan berdentum keras diselimuti ketakutan.
Aku mulai merasakan ada gerakan kasar
yang melintas diatas selimutku. Gerakan itu mengambil buku-buku yang
berserakan. Belum selesai dikejutkan oleh gerakan itu tiba-tiba ada
suara muncul berbisik di telingaku.
“Hihihihi.”
Sontak aku kaget dan tiba-tiba lampu
menyala menampakkan makhluk hitam berbulu berwajah manusia disampingku
yang matanya merah menyala sambil tersenyum horor. Tidak sempat menghela
nafas lampu kembali mati dan aku berteriak sejadi-jadinya. Entah apa
yang terjadi sepertinya aku pingsan saat itu karena hari tiba-tiba sudah
pagi saja.
Aku masih merinding dengan kejadian malam
tadi apalagi mengingat makhluk hitam itu. Dengan segera aku bangkit
dari tempat tidur dan menyalakan lampu karena biarpun pagi kamar ini
masih sedikit gelap. Lalu aku berniat keluar dari kamar ini dan tanpa
sengaja melihat ke arah cermin besar dibalik pintu. Aku melihat pantulan
diriku dan makhluk hitam seram malam tadi tepat berdiri dibelakangku.
Namun entah mengapa ketakutanku menghilang seketika. Seperti penyakit
yang menemukan obatnya, kegelisahan, rasa was-was dalam diriku telah
terlepaskan semuanya. Setelah melihat sosok hitam dibelakangku tersebut
aku perlahan mengenali wajahnya yang masam, putih, pucat pasi tersebut.
Dia adalah teman kos ku Andre, seseorang yang suka mengurung diri
dikamar, seseorang yang jarang berkomunikasi dengan sesama kecuali
denganku, dan seseorang yang sebulan lalu meninggal bunuh diri di kamar
ini.
-END-
2 April 2016
RAMD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar