Minggu, 29 Januari 2017

KABUT

By Aldi

Namaku Rama, umurku 22 tahun dan saat ini sedang mengerjakan skripsiku untuk lulus kuliah. Teman-teman kuliahku sudah banyak yang sudah lulus, yah mungkin karena hobiku mendaki gunung, jadinya banyak waktuku yang terbuang untuk menyalurkan hasrat mendaki gunung. Aku mempunyai dua teman yang sama-sama sedang berjuang dengan skripsinya, dan sama-sama suka mendaki juga, yah bias dibilang kita senasib lah. Nama mereka Wigar dan Sugi,
bersama mereka lah ku habiskan banyak waktuku, baik saat mengerjakan skripsi maupun saat pendakian, aku biasanya bertiga saja saat mendaki dan tentu saja cuman bersama mereka.
Braaaakkkkk!!! Braaakkkk!!!
Suara pintu kamar kosku didobrak.
?: “Woiii,, bangun Ram!! Tidur mulu lu!! Udah pagi nih!”
Oh, ternyata si Wigar. Aku diam sejenak mengumpulkan nyawaku. Ku tengok jam dinding disebelah atas lemariku, “Shit, masih jam 8 pagi.” Batinku.
Rama: “Sabar oy! Gue dah bangun!”
Aku buka pintu kamar kosku dan Wigar pun nyelonong masuk dengan tas keril 100 liternya. Kalo diliat memang lebih besar tas dari pada tubuh kurusnya.
Wigar: “Udah packing lu? Ayo cepet berangkat.”
Rama: “Udah nyet. Lah, kan janjiannya berangkat jam 12!”
Wigar: “Ini udah jam 11.30 cuk!”
Rama: “Itu masih jam 8 cuk.” Sambil menunjuk ke arah jam dinding.
Wigar: “Jamnya mati cuk!! Jam mati lu pelihara, kambing noh dipelihara.”
Rama: “Wah, padahal kemaren normal aja kok.”
Akhirnya aku pun mandi dan menyiapkan keperluanku untuk berangkat. Hari ini kami akan melakukan pendakian ke Gunung Butak. Gunung yang terletak diantara kabupaten Malang dan Blitar. Kami nantinya akan memulai pendakian dari Batu. Dalam pendakian ini Sugi pun ikut, dan rencananya dia akan langsung menunggu di base pendaftaran, maklum saja kosannya dekat Kota Batu.
Tepat jam 12.10 aku dan Wigar pun berangkat naik motor bebek kesayanganku. Di tengah perjalanan kami berhenti untuk sarapan dan membeli nasi bungkus untuk dimakan dalam pendakian.
Akhirnya setelah 30 menit perjalanan kami pun tiba di base pendaftaran pendakian dan Sugi pun ternyata sudah menunggu disana. Tanpa basa-basi kami pun daftar untuk 3 hari, pendakiannya sendiri 10 jam, tapi mengingat masih liburan semester dan gak ada gunanya juga mengerjakan skripsi, kami pun sepakat untuk bermalam 3 hari.
Kami memulai pendakian pada jam 1 siang pas, panas terik matahari tidak terasa karena sejuknya udara pegunungan. Estimasi ke tempat perkemahannya jam 10 malam yang berarti kami harus night hiking. Itu pun sesuai kesepakatan kami yang ingin merasakan rasanya pendakian di malam hari.
Wigar mengambil posisi di depan karena dia sudah lima kali ke gunung Butak, sementara aku ditengah dan Sugi paling belakang.
Wigar: “Nanti kalo ada yang capek bilang ya. Kita nyantai aja jalannya, dan sekitar jam 4-an nanti kita istirahat agak lama, ada tempat yang enak buat makan.”
Aku dan Sugi hanya mengiyakan saja perkataan Wigar.
Pendakian pun dimulai dengan tanjakan yang tidak begitu terjal dengan bagian kanan dan kiri adalah perkebunan milik warga. Setelah setengah jam berlalu kami melalui jalan datar yang panjang dan selanjutnya tanjakan yang cukup terjal dimana kita memasuki hutan.
Setelah melalui tanjakan yang cukup terjal dan lumayan panjang, kami pun sampai di tempat yang menurut Wigar cocok untuk tempat istirahat dan melahap bekal yang sudah kami bawa. Dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah lima lebih.
30 menit berlalu, kami pun memutuskan melanjutkan pendakian, langit pun sudah mulai gelap ditutupi awan mendung yang tipis, kabut pun mulai turun.
Rama: “Kabutnya tebel banget sob.”
Sugi: “Iya nih, bahaya banget kalo dilanjutin, udah hampir isya nih. Mending istirahat dulu nunggu kabutnya ilang”
Wigar: “Ok lah, kita istirahat dulu deh, tapi jangan lama-lama ya.”
Sugi: “Lah kenapa emang kalo lama?”
Wigar: “Sungkan sama penunggunya. Hehehehe”
Rama: “Kalo becanda liat sikon dong cuk.”
Wigar: “Relax cuk. Hehehehe.”
Kami pun istirahat agak lama, dan,,,, kami pun tertidur.

Aku pun terbangun karena kedinginan, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 11 malam. Keadaan masih tertutup kabut, meskipun tak setebal tadi. Kulihat ternyata Wigar masih tertidur, aku bangunkan dia. Setelah kami berdua bangun, kami pun melanjutkan perjalanan.
Setelah 3 jam perjalanan kami pun sampai di jalan yang harus membuat kami berhati-hati, jalan diantara tebing dan jurang. Apalagi dikeadaan yang gelap begini, hanya lampu senter yang menerangi pandangan kami, cahaya bulan tak sampai kesini tertutup kabut.
Ditengah perjalanan kami menemukan tas kecil tergeletak di bibir jurang, dan kami baru menyadari kalo tas tersebut milik Sugi. Kami baru sadar kalo Sugi ikut dalam pendakian, padahal setelah bangun tidur tadi yang aku ingat hanya aku dan Wigar yang mendaki. Aku dan Wigar hanya bisa geleng-geleng kepala, kenapa kami berdua bisa lupa.
Wigar: “Ram, kita lanjut aja, mungkin Sugi sengaja naruh tasnya disini, mungkin dia duluan dan sengaja ninggalin tasnya.”
Rama: “Emang dia pernah kesini sebelumnya?”
Wigar: “Belum, tapi gak mungkin juga dia balik, pasti dia didepan kita, tasnya aja disini. Gak mungkin juga dia nyasar, jalannya jelas banget.”
Kami berdua melanjutkan perjalanan, tempat perkemahannya pun sudah dekat, sekitar sejam  dari tempat kami menemukan tas nya Sugi. Kami berjalan menyusuri hutan di malam hari dan berharap menemukan tanda-tanda dari Sugi.
Akhirnya tempat destinasi kami sudah sangat dekat, tidak sampai sekilo perjalanan kami pun akan sampai, dan kami pun belum melihat tanda-tanda dari Sugi.
Wigar: “Stop Ram.” Kata Wigar setengah berbisik.
Rama: “Ada apa?”
Aku pun menjawab dengan nada yang tak kalah lirih, karena kami cuman berdua di dalam hutan, mengetaui Wigar berbicara dengan cara berbisik, aku pun berpikir pasti ada yang gak beres.
Wigar: “Itu yang dideket pohon tas kerilnya Sugi ya?”
Rama: “Iya, itu kerilnya Sugi.”
Wigar: “Terus orangnya mana? Kenapa kerilnya sampe kotor berlumpur gitu?”
Rama: “Mungkin dia ada disekitar sini. Coba senter ke sekeliling.”
Kami pun menyenter ke sekitar kita, dan tak lama kemudian melihat Sugi berdiri disekitar rerimbunan pohon, kami mengenalinya dari jaket merah yang dia kenakan. Posisinya sendiri membelakangi kita.
“Sedang apa ini anak?” Batinku. Aku bersama Wigar pun menghampirinya. Semakin aku mendekatinya semakin aku sadar kalau tubuhnya melayang, kakinya tidak menyentuh tanah. Tapi aku punya firasat kalau itu memang benar Sugi dan bukan setan.
Aku pun berlari kearah Sugi.
“Sugi!!!!!!” Teriakku.
Tapi sudah terlambat, dia sudah terlalu lama tergantung, tubuhnya dingin dan wajahnya pucat, lehernya membiru terjerat tali. Aku pun bergegas memotong talinya.
Bruukkkk!!
Tubuh Sugi tergeletak kaku di tanah. Kami pun sudah kecapaian, tidak mungkin membawa tubuh Sugi kebawah. Akhirnya aku dan Wigar membawa mayat Sugi ke perkemahan yang jaraknya sudah sangat dekat, mungkin ada pendaki lain yang bisa  memberi kami pertolongan.
Kami pun membawa tubuh Sugi menggunakan tandu dari kayu seadanya. 3 menit kemudian kami keluar dari hutan dan tiba di pandang rumput yang kata Wigar lumayan luas, disitulah kami akan mendirikan tenda. Dan kami mendapati sudah banyak tenda disitu. Aku bersyukur ternyata banyak orang yang sedang camping.
Wigar: “Mas tolong mas.” Kata Wigar kearah orang yang masih bangun disekitar api unggun.
Orang-orang tersebut tertegun melihat kami.
Memecah keheningan salah satu diantara mereka berteriak.
“Hoy bangun!!! Survivornya ketemu!!!!!!”
Wigar: “Siapa yang hilang mas?”
Mas ?: “Ya kalian yang ilang.”
Wigar: “Kami baru tadi siang berangkat dari tempat pendaftaran mas, siapa yang ngelaporin? Mungkin masnya salah orang.”
Mas ?: “Nama kalian Wigar Wijaya, Ramadhan, dan Sugiantoro kan? Kalian dinyatakan hilang sejak 7 hari yang lalu.”
Aku dan Wigar pun terduduk lesu, bingung tentu saja. Sementara para tim SAR melihat keadaan Sugi.
Salah satu tim SAR bertanya kepada kami tentang keadaan Sugi, tentang lehernya yang ada bekas jeratan tali. Awalnya mereka mengira Sugi tewas karena dibunuh dengan cara dijerat tali lehernya, tapi kami pun menjelaskan kepada mereka bahwa kami terpisah dengannya, dan menemukan Sugi dengan keadaan tergantung sebelum memasuki tempat kita berkemah saat ini. Aneh juga para tim SAR tidak menemukan mayat Sugi, padahal kelihatan dari jalur utama pendakian.
Salah satu tim SAR yang mengecek tubuh Sugi memanggil kami berdua. Dia menemukan buku catatan kecil perjalanannya di kantong jaket Sugi.
“Ada yang aneh dek dengan buku catatannya, kayaknya kalian lagi apes. Ini buku catatan temen kalian, dia mencatat perjalanannya waktu tersesat sendirian. Lebih baik jangan cerita ke siapa-siapa dulu.” Katanya sambil memberikan buku catatan tersebut kepada kami.
Aku pun membaca catatan dari Sugi tersebut.
Hari 1: Semalam aku memutuskan tidur di jalur pendakian, berharap ada pendaki lain menemukanku. Tapi nihil. Wigar dan Rama tidak menjawab teriakanku, mungkin mereka pingsan, aku sendiri tidak tau sedalam apa jurangnya, kabut terlalu tebal.
NB: Aku tinggalkan tas kecilku dibibir jurang tempat Wigar dan Rama terjatuh.
Hari 2: Aku mencoba berteriak ke Wigar dan Rama, lagi-lagi tak ada balasan. Aku memutuskan kembali dan melapor. Kabut masih tebal.
Hari 3: Aku tersesat. Butuh mencari air. Persediaan makan sedikit. Kabut masih tebal.
Hari 4: Tak ada tanda-tanda pendaki lain. Kabut masih tebal. God, please help me.
Hari 5: Aku baru tau makan daun tak seburuk itu meskipun aku tak tau apapun tentang bertahan hidup di alam liar. Kabut masih tebal.
Hari 6: Sudah aku bilang aku tak bisa bertahan hidup di alam liar. Hahahaha. Sepertinya aku keracunan, dan walaaaa, aku menemukan tali, mungkin tali ini bisa membantuku.hahahaha.

Itu lah catatan terakhir dari Sugi.

Semuanya sudah selesai. Kami pun langsung dipulangkan.
Tapi.
Sampai sekarang aku masih bingung dengan apa yang terjadi. Ada kepikiran untuk mengikuti jejak Sugi.
Aku pun tiba di kamar kosku, dan walaaaa, ada tali di kasurku.
Mungkin tali ini bisa membantuku.
Hahahahahahaha.
HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar