Minggu, 17 Januari 2016

Beban Hidupku



Beban Hidupku
Sebuah cerpen
By Ramd

Aku akhirnya berhasil melepaskan semua beban hidupku. Malam ini aku merasakan tubuhku sangat ringan seakan-akan aku bisa terbang, juga angin malam berhembus membelai sekujur tubuhku yang agak kurus ini. Tidak sedikit tenaga dan waktu yang kukerahkan untuk menyelesaikan masalah-
masalah itu. Kalau ku ingat-ingat hampir saja masalah hidup ini membuatku menyerah. Tapi aku terus bertahan hingga sekarang.
 
Dua hari yang lalu,

Aku berjalan sempoyongan menuju apartemen tempat tinggalku. Malam ini aku benar-benar merasa gelap dan tidak ada harapan. Semua tenaga, pikiran, dan waktu yang telah kugunakan untuk membangun karir ku telah runtuh sepenuhnya. Kemarin perusahaan yang kubangun selama bertahun-tahun telah diambil alih oleh salah seorang orang kepercayaanku. Orang itu bernama Ardi, dia sudah menjadi tangan kananku selama 5 tahun ini. Ternyata selama ini dia telah membangun kelompok di dalam perusaan untuk melengserkan kedudukanku sebagai direktur utama. Setelah dia berhasil melakukannya aku pun dikeluarkan dari perusaahaanku sendiri. Semua asset-asetku rumah, usaha-usaha lainnya telah dirampas!

Tapi ada satu yang masih menjadi milikku. Itu adalah istriku Dina. Setelah tahu aku bangkrut dia tidak marah kepadaku dan mengatakan kalau dia akan tetap mendukung dan terus bersamaku. Hal ini mengobati jiwaku secara perlahan. Akhirnya muncul secercah harapan bagiku untuk meneruskan hidupku dengan memulai dari awal. Sekarang aku akan berusaha demi Dina!

Keesokan harinya aku terus mulai melamar kerja ke semua perusahaan dimana pun tempat ku berpijak. Cukup susah karena umurku sudah hampir kepala 4, dan karena aku dikeluarkan secara tidak terhormat dari perusahaanku sebelumnya. Benar-benar menguras mentalku, mala mini aku pun tanpa sadar telah berjalan menuju bar. Biasanya sebelum menjadi pengangguran pun aku sering memesan cocktail disini bersama teman-teman perusahaan. Kali ini aku langsung memesan Vodka karena tujuan ku kemari adalah untuk melupakan kemalangan hidup. Setelah beberapa shot vodka aku mulai agak mabuk dan segera beranjak pergi. Dijalan, aku pun mulai muntah-muntah dan sambil bernyanyi tidak karuan, aahhh aku tidak bisa berpikir! 

Setelah sampai digedung apartemenku, aku berjalan sempoyongan menuju kamarku. Batas apartemen ku sebenarnya sudah habis hari ini tapi aku tidak punya tempat tinggal lagi selain disini. Istriku Dina katanya akan mencari tempat tinggal sementara untuk kami, pikirku mungkin dia tidak akan berada di apartemen ini. 

Saat masuk ke apartemen aku melihat ada sepatu lain selain sepatu Dina di rak sepatu. Saat itu juga aku mendengar suara erangan wanita dan tanda tanya memenuhi pikiranku. Pikiran-pikiran negatifku mulai bermunculan, Oh tuhan! Semoga tidak seperti yang kubayangkan! Aku menuju kamar perlahan dan suara itu semakin kencang terdengar. 

Ternyata benar! 

Dina sedang berhubungan badan dengan seorang laki-laki di kamar kami! Dia adalah Ardi!!! Aku menangis! Hati ku hancur! Ternyata semuanya telah mengkhianatiku!! Apa mereka besekongkol dari dulu?!?! KURANG AJAARR!!!! Dengan segera aku mengambil pistol di lemari dan melubangi kepala laki-laki itu!!! 

Dorr!!!

Dina kaget dengan muncratnya darah dari kepala laki-laki diatasnya tersebut. Dia akhirnya sadar aku berada di kamar tersebut dan mulai berkata dengan terbata-bata sambil menangis.
“sa.. saa…yang..i ii.. ni..tid...tidakk..!!”

Dorr!!!

Tanpa menghiraukan alasannya aku pun mengakhiri hidup Dina. Dina dan Ardi sudah tidak bergerak lagi, mereka telah mati. Malam ini aku benar-benar hancur! Perasaanku ter iris!! Terlalu sakit!!! Sahabat?? Bahkan istriku yang kukira berada di pihakku ternyata!????!!! Entah kenapa tiba-tiba aku mulai tertawa dan mengarahkan pistol ke kepalaku sendiri.. aku sudah siap.. saatnya mengakhiri ini. 

Klik.. klik.. Klik..

!!??

Ternyata pistol ini telah kehabisan peluru. Aku pun melempar pistol itu kelantai sambil berteriak. 

Tik tok tik tok tik tok..

Suara tangisku mulai mereda dan tinggal suara detik jam yang terdengar di ruangan ini. Aku pun bangkit dan berjalan menuju balkon dengan membuka pintu kaca. Aku berdiri naik ke pagar balkon apartemen ini. 

Kamar Apartemanku berada di lantai 50. 
Tanpa pikir panjang aku pun melompat.


Kembali ke narasi awal cerita….

Aku akhirnya berhasil melepaskan semua beban hidupku. Malam ini aku merasakan tubuhku sangat ringan seakan-akan aku bisa terbang, juga angin malam berhembus membelai sekujur tubuhku yang agak kurus ini. Tidak sedikit tenaga dan waktu yang kukerahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Kalau ku ingat-ingat hampir saja masalah hidup ini membuatku menyerah. Tapi aku terus bertahan hingga sekarang. 

Dan akhirnya tinggal beberapa detik lagi sampai semua ini berakhir…

BRUKKKK!

=end=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar