Beban Hidupku
Sebuah cerpen
By Ramd
By Ramd
Aku akhirnya berhasil
melepaskan semua beban hidupku. Malam ini aku merasakan tubuhku sangat ringan
seakan-akan aku bisa terbang, juga angin malam berhembus membelai sekujur
tubuhku yang agak kurus ini. Tidak sedikit tenaga dan waktu yang kukerahkan
untuk menyelesaikan masalah-
masalah itu. Kalau ku ingat-ingat hampir saja masalah hidup ini membuatku menyerah. Tapi aku terus bertahan hingga sekarang.
masalah itu. Kalau ku ingat-ingat hampir saja masalah hidup ini membuatku menyerah. Tapi aku terus bertahan hingga sekarang.
Dua hari yang lalu,
Aku berjalan sempoyongan menuju apartemen tempat tinggalku.
Malam ini aku benar-benar merasa gelap dan tidak ada harapan. Semua tenaga,
pikiran, dan waktu yang telah kugunakan untuk membangun karir ku telah runtuh
sepenuhnya. Kemarin perusahaan yang kubangun selama bertahun-tahun telah
diambil alih oleh salah seorang orang kepercayaanku. Orang itu bernama Ardi,
dia sudah menjadi tangan kananku selama 5 tahun ini. Ternyata selama ini dia
telah membangun kelompok di dalam perusaan untuk melengserkan kedudukanku
sebagai direktur utama. Setelah dia berhasil melakukannya aku pun dikeluarkan
dari perusaahaanku sendiri. Semua asset-asetku rumah, usaha-usaha lainnya telah
dirampas!
Tapi ada satu yang masih menjadi milikku. Itu adalah istriku
Dina. Setelah tahu aku bangkrut dia tidak marah kepadaku dan mengatakan kalau
dia akan tetap mendukung dan terus bersamaku. Hal ini mengobati jiwaku secara
perlahan. Akhirnya muncul secercah harapan bagiku untuk meneruskan hidupku
dengan memulai dari awal. Sekarang aku akan berusaha demi Dina!
Keesokan harinya aku terus mulai melamar kerja ke semua
perusahaan dimana pun tempat ku berpijak. Cukup susah karena umurku sudah
hampir kepala 4, dan karena aku dikeluarkan secara tidak terhormat dari
perusahaanku sebelumnya. Benar-benar menguras mentalku, mala mini aku pun tanpa
sadar telah berjalan menuju bar. Biasanya sebelum menjadi pengangguran pun aku
sering memesan cocktail disini
bersama teman-teman perusahaan. Kali ini aku langsung memesan Vodka karena tujuan ku kemari adalah
untuk melupakan kemalangan hidup. Setelah beberapa shot vodka aku mulai agak mabuk dan segera beranjak pergi. Dijalan,
aku pun mulai muntah-muntah dan sambil bernyanyi tidak karuan, aahhh aku tidak
bisa berpikir!
Setelah sampai digedung apartemenku, aku berjalan
sempoyongan menuju kamarku. Batas apartemen ku sebenarnya sudah habis hari ini
tapi aku tidak punya tempat tinggal lagi selain disini. Istriku Dina katanya
akan mencari tempat tinggal sementara untuk kami, pikirku mungkin dia tidak
akan berada di apartemen ini.
Saat masuk ke apartemen aku melihat ada sepatu lain selain
sepatu Dina di rak sepatu. Saat itu juga aku mendengar suara erangan wanita dan
tanda tanya memenuhi pikiranku. Pikiran-pikiran negatifku mulai bermunculan, Oh
tuhan! Semoga tidak seperti yang kubayangkan! Aku menuju kamar perlahan dan
suara itu semakin kencang terdengar.
Ternyata benar!
Dina sedang berhubungan badan dengan seorang laki-laki di kamar
kami! Dia adalah Ardi!!! Aku menangis! Hati ku hancur! Ternyata semuanya telah
mengkhianatiku!! Apa mereka besekongkol dari dulu?!?! KURANG AJAARR!!!! Dengan
segera aku mengambil pistol di lemari dan melubangi kepala laki-laki itu!!!
Dorr!!!
Dina kaget dengan muncratnya darah dari kepala laki-laki
diatasnya tersebut. Dia akhirnya sadar aku berada di kamar tersebut dan mulai
berkata dengan terbata-bata sambil menangis.
“sa.. saa…yang..i ii.. ni..tid...tidakk..!!”
Dorr!!!
Tanpa menghiraukan alasannya aku pun mengakhiri hidup Dina. Dina
dan Ardi sudah tidak bergerak lagi, mereka telah mati. Malam ini aku
benar-benar hancur! Perasaanku ter iris!! Terlalu sakit!!! Sahabat?? Bahkan istriku
yang kukira berada di pihakku ternyata!????!!! Entah kenapa tiba-tiba aku mulai
tertawa dan mengarahkan pistol ke kepalaku sendiri.. aku sudah siap.. saatnya
mengakhiri ini.
Klik.. klik.. Klik..
!!??
Ternyata pistol ini telah kehabisan peluru. Aku pun melempar
pistol itu kelantai sambil berteriak.
Tik tok tik tok tik tok..
Suara tangisku mulai mereda dan tinggal suara detik jam yang
terdengar di ruangan ini. Aku pun bangkit dan berjalan menuju balkon dengan membuka
pintu kaca. Aku berdiri naik ke pagar balkon apartemen ini.
Kamar Apartemanku berada
di lantai 50.
Tanpa pikir panjang aku pun melompat.
Kembali ke narasi awal
cerita….
Aku akhirnya berhasil
melepaskan semua beban hidupku. Malam ini aku merasakan tubuhku sangat ringan
seakan-akan aku bisa terbang, juga angin malam berhembus membelai sekujur
tubuhku yang agak kurus ini. Tidak sedikit tenaga dan waktu yang kukerahkan
untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Kalau ku ingat-ingat hampir saja
masalah hidup ini membuatku menyerah. Tapi aku terus bertahan hingga sekarang.
Dan akhirnya tinggal
beberapa detik lagi sampai semua ini berakhir…
BRUKKKK!
=end=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar