Orang Yang Berpakaian
Serba Hitam
sebuah cerpen
by Ramd
sebuah cerpen
by Ramd
Dirumah ini aku tinggal bertiga dengan kedua orang tuaku. Orang
tuaku baru pulang dari luar negeri, mereka sedang tidur dikamar. Aku pun
menonton tv sambil menikmati oleh-oleh yang dibawa orang tuaku. Ketika malam semakin
larut aku segera mengunci pintu, menutup jendela, menyalakan lampu ruang tamu
dan kamarku. Sekarang rumah ini bagaikan museum yang cuma dihuni patung dan
benda mati, seperti ruang kelas yang ditinggalkan oleh murid-murid.
Hujan gerimis berpetir. Aku bersiap untuk tidur. Segera aku
mematikan lampu ruang tamu dan masuk kedalam kamarku. Tiba-tiba aku mendengar
suara benda pecah. Bertepatan dengan lampu kamarku kumatikan aku mendengar
suara berisik itu.
Duk duk duk duk
Ada suara gaduh diiringi pecahnya suara tadi. Aku membuka
kamarku dan menyelinap melihat apa yang sebenarnya terjadi. Aku mengintip dari
samping tembok tampak ada dua orang besar berpakaian serba hitam. Wajah mereka
tertutup topeng sehingga aku tidak tahu siapa mereka sebenarnya. Suara langkah
mereka hampir tidak terdengar. Mereka bergerak sangat halus membuka laci-laci
lemari diruang tamu. Salah satu dari mereka menuju kekamar orang tua ku. Satunya
berjalan kearahku. Secepatnya aku bersembunyi di lemari bawah tangga.
Aku mendengarkan suara dercit dari kayu tangga. Orang itu
sedang naik menuju kamarku. Aku keluar dari lemari dan menuju ruang tamu
mengambil ponsel. Salah satu dari mereka ternyata mencoba membuka kamar orang
tua ku yang terkunci. Aku menyelinap ke dalam lemari dapur sambil melihat apa
yang mereka lakukan.
Orang itu akhirnya bisa membuka kamar orang tuaku. Temannya yang
tadi naik ke lantai atas sudah turun dan berdiri di depan ku menjaga sekitar.
Tring tring!
“?!”
Ponsel yang kupakai tadi berbunyi. Orang itu dengan cepat
menuju ke arahku. Membuka tiap lemari didapur ini dan sebelum dia membuka
lemari tempat ku bersembunyi. Aku menjadi sangat gugup. Jantungku berdegup
dengan kencang. Aku menahan nafas ketika lemari ini hampir terbuka olehnya. Namun
tiba-tiba temannya dari kamar orang tua ku datang sambil berlari dan
menghentikan membuka lemari persembunyianku. Sepertinya temannya itu sedang panik.
BRUAKKK!!
Pintu depan telah didobrak. Polisi telah masuk kerumah dan
mendapati mereka. Dengan segera mereka mencoba melarikan diri berlari menuju
jendela. Tapi timah panas dari polisi dengan cepat menembus rencana picik
mereka dan melumpuhkan salah satu dari orang itu. orang yang satunya berhasil
kabur lewat jendela ruang tamu. Akhirnya polisi mengamankan orang yang
tertembak itu dan malam mencekam pun berakhir.
Peristiwa kemarin ternyata merenggut nyawa kedua orang tuaku.
Malam itu saat orang itu diamankan oleh polisi aku kaget melihat kedua orang
tuaku sudah tidak bernyawa.
Hari ini aku menghadiri pemakaman mereka. Setelan baju hitam
yang kupakai mengingatkanku pada kejadian dimalam yang lalu, ketika dua orang
berpakaian hitam masuk merampok dirumahku. Setelah pemakaman selesai aku pun beranjak pulang. Saat itu dibawah
pohon dekat pemakaman aku melihat tetanggaku sedang ditanyai para polisi. Aku
sedikit penasaran, seraya berjalan sambil mendengarkan.
“Pasangan yang
meninggal apakah ada kegiatan sebelum kejadian perampokan?”
“Yang kami tahu mereka baru
kembali sehabis berlibur keluar negri.”
“Kami akan mencari
pelaku satunya yang melarikan diri.”
“Kami sangat kaget
waktu mendengar suara tembakan dari rumah tetangga, tapi kami bersyukur polisi
tiba tepat waktu”
“Ya kami berterima
kasih kepada anak mereka yang melapor saat kejadian”
“?!”
“Tunggu dulu petugas?? Kedua pasangan ini baru
menikah dan pulang dari bulan madu mereka.”
“Maksudnya?”
“Mereka belum mempunyai
anak!”
Senyum dibibirku mulai muncul. Aku masih ingat dimalam kedua
orang tuaku pulang. Setelah memasukkan racun kedalam minuman mereka aku pun
memukuli mereka. Memastikan mereka tertidur karenanya. Pengalaman yang sangat
menyenangkan. Aku memang memakai pakaian serba hitam tapi berbeda dari kedua
perampok kemarin.
Kali ini pun aku perlahan mengikuti kedua orang tuaku yang baru. Mereka
adalah pasangan yang tadi kutemukan saat sama-sama menghadiri pemakaman.
-End-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar