Selasa, 19 Januari 2016

Danau Div



Danau Div
sebuah cerpen
by Ramd



Di desaku terdapat danau yang sangat besar. Danau itu bernama Danau Div, luas sekitar 50x70 km. Air danau ini terlihat berwarna kebiruan dan katanya kedalamannya sekitar 700-800 meter. Dulu aku sering bermain bersama teman-temanku disekitaran danau tersebut. Anak-anak seusiaku pasti sering datang ketempat ini. Warga sekitar juga menjadikan danau ini sebagai mata pencaharian. Kami bermain, memancing, berenang dan membantu orang tua di danau tersebut. Kalau berenang aku tidak ikut, karena saat itu aku tidak bisa berenang. 

 

Pagi itu hari sangat cerah,


“Alvin ayo berenang!!”


Kevin teman SD ku itu berteriak mengajakku berenang. Kevin ini orangnya pemberani, dia selalu suka yang namanya petualangan. Rambut gimbalnya selalu di ikat keatas, jadi tidak sulit untuk mengenali ciri-cirinya. Hari ini sekolah libur dan aku akan diajari berenang oleh Kevin.

Kami menuju danau dan sesampainya disana kami bertemu dengan Anna. 


“aku mengajak Anna juga kemarin” Kevin bicara kepadaku.


“hehe kalau bersama-sama lebih asik kan” tutur Anna dengan girangnya.


Anna juga teman SD ku. Rambut hitam pendek sebahu dan orang yang periang. Di sekolah kami sering bermain bersama. Masih kurang satu orang lagi di kelompok kami namanya Duan. Hari ini sepertinya Duan sedang sibuk membantu ayahnya memancing ikan. Sudah pasti dia agak jauh berada di tengah danau. 


Kami masuk ke area danau lewat pintu gerbang utama. Gerbang ini lumayan besar, terbuat dari kayu dan kelihatan sangat kokoh. Gerbang pagar ini tinggi, jadi orang-orang diluar tidak bisa melihat ataupun mengintip danau dari luar pagar. Semua orang yang ingin pergi kedanau cuma bisa memasukkinya lewat gerbang ini. Jadi bisa dibilang ini satu-satunya akses menuju danau dari desa kami.


Setelah masuk aku pun berlatih ditepian danau bersama Kevin dan Anna. Ternyata sulit juga belajar berenang. Seharian ini aku belajar di danau Div dan ternyata tanpa kusadari aku sudah bisa mengambang di air, tapi masih tidak terlalu bisa bergerak kesana-kemari. Pengalaman yang sangat menyenangkan!


“anak-anak, semuanya ayo naik, udah mau malam!!”


Pak Dani berteriak memanggil kami yang berada sekitar danau. Mendengar suara pak Dani kami pun bergegas keluar dari danau. Pak Dani ini adalah penjaga daerah sekitaran pinggiran danau, biasanya dia memperingati penduduk kalau sudah hampir malam. Danau Div ini memiliki beberapa pantangan yang harus di ikuti masyarakat sekitar. Pantangan nya adalah dilarang melakukan aktifitas apapun ketika malam hari. Dan setiap di akhir bulan sekitar tanggal 28-30 dilarang masuk ke area danau. Pada salah satu hari di akhir bulan tersebut secara misterius semua ikan menghilang dari zona tangkap. Kami menyebutnya hari itu sebagai Void Day (hari kekosongan). Hal ini membuat para nelayan tidak pergi berlayar sekitar tanggal itu. Kalau melanggar pantangan tersebut maka akan mendapat kesialan. Banyak orang yang hilang saat nekat pergi ke danau. Sampai sekarang Misteri void day ini masih belum terpecahkan. Tetapi setelah void day berlalu semua ikan kembali seperti semula. 


Pada suatu malam aku sedang berkumpul bersama teman-temanku di rumahku.


“Hey bagaimana kalau kita menyelidiki void day besok malam!”


Mendengar kata-kata Kevin aku tersentak.


“Jangan!! Bukannya semuanya dilarang pergi kesana! Kalau ketahuan bakal dimarahi kita” jawabku.


“Kita sudah hampir lulus dari Sd, sudah saatnya kita membuat beberapa kenangan yang besar bersama, bukannya kau akan pindah ke kota untuk melanjutkan sekolah disana Alvin?”


Kevin memang benar, sebenarnya setelah kelulusan aku akan pindah ke kota. Kebanyakan dari anak-anak seusiaku melanjutkan sekolahnya di kota.  


Sebenarnya aku juga sedikit penasaran dengan void day itu” Duan tiba-tiba berbicara.


“Nah benar kan, bagaimana? Ayo kita berangkat besok malam” tutur Kevin.


“Tapi aku takut kesana malam-malam, mama pasti  tidak memperbolehkan ku pergi kesana” jawab Anna takut bercampur khawatir.


“Dasar penakut! Bilang saja kita kumpul di rumah Alvin! kita akan memakai sampan yang ada di sekitaran danau, menuju pertengahan sedikit terus kita segera kembali sebelum dicari orang tua kita” Kevin membentak sambil menjelaskan rencananya.


Mendengar hal itu aku sedikit tertarik untuk ikut. Di ruang ini hanya ada kami ber 5, Aku, Kevin, Anna, Duan dan Sasha. Sasha adalah teman Sd kami yang malam ini ikut berkumpul setelah di ajak Anna. Dia satu tahun lebih muda diantara kami berempat. Sepertinya dia juga tertarik untuk ikut petualangan kami besok malam.


“Bukannya gerbang ditutup saat malam? bagaimana caranya kita masuk?” Sasha bertanya kepada Kevin


“Tenang aku tau jalur masuk lain selain gerbang”


“!?”


Kami semua kaget mendengar Kevin. Pikirku tidak ada jalan lain selain melewati gerbang untuk masuk ke danau. Apa karena Kevin suka bertualang menjelah hutan sekitar gerbang? Mungkin saja menurutku. Setelah semuanya setuju untuk pergi Kevin pun menutupnya dengan berkata,


“Kalau begitu besok malam kita kumpul di lapangan dekat hutan!”



Besok malam,

Aku dan lainnya sudah berada dilapangan. Kemudian Kevin menyuruh kami untuk mengikutinya memasuki hutan. Lumayan gelap juga dihutan, kami masing-masing membawa senter dari rumah. Setelah beberapa menit masuk kehutan ternyata disitu ada salah satu pagar kayu yang rusak. Ukuran orang dewasa tidak akan bisa melewatinya tapi untuk kami bisa masuk dengan mudah. Setelah masuk pemandangan pertama yang kulihat adalah danau Div. Saat itu danau sangat gelap dan lampu penerangan hanya ada disekitaran pagar saja. Muncul perasaan takut didalam jiwaku ketika melihat gelapnya area ini. Aku mulai bertanya dalam ragu ‘benarkah kita akan berlayar sekarang?’   


Tidak ada tanda-tanda kehidupan disini. Jelas sekali tidak ada seorangpun yang seharusnya diperbolehkan masuk kecuali kami yang diam-diam melanggar pantangan. Melanggar pantangan? Sebelumnya aku tidak terpikirkan untuk melakukan hal ini. Setelah melakukannya aku baru sadar kalau aku telah melanggarnya. Tapi rasa penasaranku melawan keraguannya akhirnya aku tetap melakukannya. 


Kami berjalan menuju sampan terdekat, naik dan segera berlayar. Benar-benar gelap sekali malam ini. Salah satu penerangan kami hanyalah senter yang kami pegang dengan eratnya. Langit tetap terang karena dihiasi bintang-bintang, sayangnya malam ini adalah bulan baru jadi bulan tidak ikut menyinari kami di area danau ini. 


“Katanya ikan-ikan menghilang pada saat void day” Sasha memulai percakapan.


“masa sih? Tapi sepertinya tidak ada yang aneh malam ini, kecuali anginnya bertiup lumayan kencang” Anna mulai kedinginan.


“Tidak.. bukan cuma itu, aku tidak tahu masalah ikan menghilang atau tidak, tapi air danau malam ini sangat tenang” kata Duan.


“Sangat tenang? Maksudnya?” aku sedikit bingung dengan apa yang dikatakan Duan.


“Ini aneh sekali angin bertiup kencang tapi danau ini bahkan tidak bergelombang, biasanya waktu aku membantu ayahku tidak seperti ini” Duan menjelaskan.


“fufufu ini benar-benar menarik!” Kevin kegirangan.


Saat itu kami semua tidak menyadarinya, kami terfokus dengan hal-hal yang dikatakan Kevin.  Setelah sekitar 20 menitan kami bersiap untuk kembali tiba-tiba air permukaan danau agak bergelombang. Gelombang ini mengejutkan kami ber lima. Dan Anna bergumam sesuatu.


“loh apa itu?”


“?!”


“Ada apa Anna?” Duan bertanya.


“Rasanya tadi aku melihat sesuatu di tengah danau?”


“Mana??” Kevin mencoba melihat-lihat tapi tidak menemukan apapun.


“Sepertinya kita harus cepat kembali, nanti kita dicari orang tua kita” 


Aku mendengar dan menebak arah pembicaraan ini mulai merasa takut dan menyuruh mereka untuk segera mengayuh ke daratan.


“Sial kita masih belum memecahkan misteri ini?!?! Besok aku akan kisini lagi!!” Kevin tidak puas dengan hasil hari ini.


“eh gelombangnya sudah mereda?” kata Duan.


“cepat kayuh!! kita kembali pulang!!” 


Aku berteriak kepada mereka. Perasaanku tidak enak dengan apa yang dikatakan oleh Anna tadi. Dan aku belum bisa berenang dengan baik, takut-takut kalau aku terjatuh dari perahu.


Kami pun mengayuh kedaratan dan pulang kerumah masing-masing. Syukurlah malam ini aku berhasil menyelinap ke kamar tidurku jadi aku tidak kena marah orang tua ku.


Besoknya Kevin datang kerumah ku. Dia mengajakku kembali ke danau Div. Awalnya aku keberatan untuk ikut tapi katanya dia akan menjelajahinya siang ini tidak malam seperti kemarin. Akhirnya aku menyerah dan ikut dengannya. Siang ini yang berangkat hanya bertiga, Aku, Kevin, dan Anna. Kami lewat hutan seperti kemarin dan akhirnya sampai di Danau Div. Pemandangan danau siang ini berbeda dari malam tadi. Malam tadi kami tidak dapat melihat danau dengan jelas. Tapi sekarang danau Div terlihat jelas dan tetap tidak ada tanda-tanda kehidupan. Biasanya siang begini paling tidak ada burung-burung beterbangan di atas danau, tapi mereka satu pun tidak tampak. Berlayar siang ini aku bisa merasakan permuakaan air ini sama tenangnya seperti malam kemarin. Kami mengayuh agak jauh untuk melihat-lihat danau Div di void day ini. 


“sepertinya tidak ada apa-apa” gumamku.


“Pasti ada sesuatu kan? Buat apa adanya peraturan seperti void day di desa kita?” Kevin menggerutu.


Kami berada agak jauh dari daratan. Sangat sunyi dan sepi sekali danau ini. Bukan cuma sepi tapi siang ini sangat panas terik matahari. Kami hanya mengendalkan naungan dari awan yang lewat menutupi matahari. Jadi kami cepat-cepat mengikuti bayangan awan lainnya setelah matahari mulai muncul lagi. 


“sial panas sekalii, ayo kayuh ke bayangan awan itu” Kevin sudah sangat kepanasan.


Kami pun mengayuh lagi dan sampai di bayangan awan itu. Tapi ada yang aneh.


“Alvin sudah sampai kah kita?” Anna bertanya padaku.


“Alvin ayo cepat siang ini terlalu panas!” Kevin menggerutu.


“….” Waktu itu sepertinya hanya aku yang meyadarinya.


“Alvin??” Anna mencoba memanggilku.


“?!”


“Kevin, Anna, kita sudah berada di bayangan”


“hah?? Masa? Tapi masih panas?”


“!”


Dikala kebingungnan tersebut kami pun melihat ke permukaan air. Memang benar kami telah sampai di bayangan tersebut tapi permasalahannya adalah itu bukan bayangan dari awan di langit. Sesuatu yang besar sepertinya berada di bawah permuakaan air ini. Yang membuat kami lebih kaget adalah bayangan ini tiba-tiba bergerak. Gelombang tiba-tiba menghantam perahu kecil kami dan membuatnya elong kesana-kemari.


Bruakkk!


Ada sesuatu yang menghantam perahu kami dan perahu kami tergulir. Kami semua jatuh ke danau. Saat itu aku hanya bisa mengambang. Aku melihat Kevin dan Anna agak jauh jaraknya dariku. Aku berada lebih dekat dengan kapal. Bayangan di bawah air tersebut bergerak dengan cepat membuat ku semakin takut dan panik. Kepanikan kami memuncak karena terdapat sesuatu yang tidak kami ketahui dibawah sana. Tiba-tiba kakiku menyentuh sesuatu yang licin bergerak dibawah air. Aku hampir menangis ketika merasakan suatu makhluk bergerak dibawahku. Aku bergegas bergerak mendekati perahu, dan dengan cepat naik kembali. Lalu aku melihat ke arah Kevin dan Anna. Tapi aku tidak dapat menemukan mereka?   


“KEVIIINNN??! ANNAA!?!??”


Aku berteriak memanggil mereka tapi hanya keheningan yang menjawabku. Aku sangat ketakutan bayangan itu masih berada tepat di bawah perahu. Tapi aku harus mencari Kevin dan Anna? Kemana mereka? Akhirnya aku mengambil google, mengikat tali di perahu kupegang dengan sangat erat dan sekali lagi bercebur untuk melihat didalam air.


Air tampak agak keruh jarak pandang ku juga terbatas. Dimana gerangan mereka? Dan apa sebenarnya bayangan gelap besar dibawah perahu kami tadi? Aku tidak mau berlama-lama didalam air dan segera naik ke permukaan. Tiba-tiba di ujung jarak pandangku aku melihatnya. Ada gerakan yang menuju ke arahku. Itu lah dia, Makhluk itu sangat besar dan tubuhnya panjang. Aku terkaget dan cepat-cepat menarik tali untuk naik ke permukaan. Tapi mahkluk tersebut hanya melewatiku dan terus masuk ke arah dasar danau. 


Aku naik ke perahu dan sangat ketakutan. Apa mereka dimakan makhluk tersebut?? Aku bingung bercampur khawatir. Aku menangis, aku hanya berdiam di atas perahu ini. Banyak hal yang masuk kedalam pikiranku. Kemudian perasaan takut kembali mendatangiku saat bayangan dari dalam air itu kelihatan mengitari ku. Aku pun segera menunduk memeluk kedua belah kakiku sambil menggigil ketakutan. Aku terus berdiam sampai bayangan makhluk itu akhirnya mulai menghilang. 


Hari sudah mulai menjelang malam. Aku pun mencoba mengayuh kembali ke daratan. Didalam hati ku sangat sakit menerima kenyataan kalau 2 temanku tersebut telah hilang.  


Setelah sampai di daratan pandangan ku mulai berat dan aku ambruk di tepi danau. Saat aku bangun, aku mendapati diriku disuatu kamar dan aku masih merasakan sakit di kepalaku. Tidak lama kemudian Duan masuk ke kamar ini dan kaget melihatku sudah sadar. 


Ternyata aku ditemukan oleh Pak Dani dan dibawa kerumah beliau. Orang tua ku juga ada disini. Semuanya bersyukur aku selamat dan aku pun menceritakan semaunya kepada mereka. Saat kuceritakan ada suatu makhluk di dasar danau tersebut para orang tua di desa ini tidak terlalu membahas hal itu, sepertinya mereka tidak percaya dengan apa yang kuceritakan. Lalu void day pun berlalu, semua warga masih mencari Kevin dan Anna yang hilang di danau. Tapi mereka tidak ditemukan dimanapun, begitu pula makhluk yang kuceritakan itu. Aku trauma dengan kejadian tersebut sehingga sampai sekarang aku jadi takut berenang. Setelah lulus, Aku dan keluargaku pun pindah ke kota.


Tahun demi tahun pun berganti, kira-kita sudah 10 tahun berlalu. Aku kembali ke desa ku tersebut dan mengunjungi Danau Div. Danau ini tetap tenang dan sepi seperti biasanya. Karena kejadian orang hilang hampir terjadi tiap tahun akhirnya danau ini menjadi sepi. Sesaat sebelum aku ingin kembali aku menengok sekali lagi ke Danau Div dan melihat bayangan hitam di dalam danau itu bergerak. Saat itu aku tidak ingin mengingat kembali kejadian kelam dulu dan hanya menganggap itu bayangan dari awan.



=END=




Tidak ada komentar:

Posting Komentar