Sabtu, 13 Februari 2016

Peeping

Peeping
sebuah cerpen
By Wigar



'Ngadimin'


Sebuah papan kayu bertulisan tergantung disamping pintu masuk kosku di daerah tlogo mas, malang, hari ini, seperti hari² sebelumnya di minggu ini, aku sendiri di kosku yang bertingkat 2, karena minggu² awal dibulan februari adalah jadwalnya liburan hampir seluruh kampus di malang, ditambah lagi beberapa
teman kosku yang juga teman kuliahku baru saja lulus dan memutuskan untuk meninggalkan kosan dan kembali ke kampung halamannya masing². karena alasan "menunggu wisuda" dan "malas pulang (ke daerah asal)" aku memutuskan untuk tetap di kosan di bulan ini.
 
Hari ini adalah hari kamis, hujan yang sangat lebat tidak pernah absen satu hari pun di bulan februari, aku terbangun pukul 17:55 dari hibernasiku setelah menonton film midnight "the revenant" bersama dua orang temanku yang bernasib serupa. sore hari ini langit terlihat suram dengan kelabu kelamnya yang ditambah derasnya hujan. aku terdiam sekitar 10 menit, menatap kosong di kamar yang berbau tidak sedap. bersaut²an terdengar suara adzan maghrib dari masjid² sekitar kosanku beradu dengan suara hujan sore yang seakan lebih sombong. tidak ada satupun sesuatu yang bisa aku ajak berinteraksi kecuali pikiranku sendiri yang masih bungkam, bukan suatu hal yang baru, tetapi memang sudah menjadi hal yang biasa bagiku belakangan ini.

Sama halnya dengan tidur keduaku ini, kembali sadar aku terbangun pukul 00.59 di hari jum'at, entah sejak kapan aku mulai kembali tertidur dari sore tadi. suara hujan masih menjadi hal pertama yang aku dengar, dan keinginanku untuk buang air kecil mungkin adalah hal pertama yang membuatku terasa hidup.

Lantai 2, tempat dimana kosan ngadimin ditempatkan terlihat begitu gelap, karena memang tugasku yang seharusnya menyalakan lampu disaat tidak ada satupun orang dirumah kos-kosan ini, dengan sangat terpaksa aku keluar dari kamarku untuk menyalakan lampu dan menuju ke kamar mandi yang berada dibawah.
 
Hawa dingin malang terasa cukup menyengat malam ini, aku langsung bergegas ke lantai bawah, tempat dimana garasi motor dan satu²nya kamar mandi di kosan ngadimin.
 
Lantai satu pun sangat gelap, hampir tidak terlihat apapun kecuali jika aku menyalakan lampunya, satu hal yang aku takuti di kegelapan adalah, kecoa, untungnya aku tidak dijumpai oleh kehadirannya, hehe.
 
Aku memasuki kamar mandi, kamar mandi ini sebenarnya ada 2 pintu, tetapi yang 1 pintu hanya tersedia keran untuk kegiatan ber-wudhu atau mencuci pakaian, sedangkan yang 1 lagi untuk kegiatan MCK (mandi cuci kakus), kedua ruangan ini dipisah oleh tembok setengah penuh, dan tersisa fentilasi sekitar setengah meter. bak mandi terletak di sudut kiri berlawanan dengan pintu masuk, sedangkan closet terletak disebelah kiri pintu masuk menghadap tembok ruangan kamar mandi sebelah.
 
Tidak cukup aku buang air kecil, ternyata tidur seharianku ini membuat perutku harus segera membuang kotorannya. akupun melakukan kegiatan "poop", sekitar 10 menit aku jongkok, tetapi masih saja belum lega pikirku, aku melanjutkan sesi ke-2, ketika tiba-tiba lampu kamar mandi mati.

"Ah sial, lampu wafuuu...." umpatku.
 
Lampu kamar mandi ini memang sering bermasalah, untungnya saklar lampu berada tepat disamping pintu, diatas closet, sehingga masih terjangkau walaupun sambil jongkok. aku tekan tombol on/off beberapa kali tetapi tetap tidak bisa menyala, mungkin mati listrik pikirku. seketika pikiranku mulai berfikir negatif, aku mulai merasa takut akan hadirnya kecoa. mataku mencoba menerawang di kegelapan kearah tempat kecoa biasa muncul di kamar mandi ini. dan, aahh... akhirnya lampu kembali menyala, dan ternyata memang tidak ada apa² ditempat yang kuperhatikan tadi.
 
Tetapi kegiatanku belum selesai.
tidak berapa lama berselang, lampu kamar mandi kembali mati, tetapi kali ini aku lebih bisa mengontrol pikiranku, sampai aku merasakan suatu hal yang lain.

Masih, aku tidak bisa melihat apa² dikegelapan, tetapi aku merasa ada sesuatu yang memperhatikanku, entah dari mana.
 
Disaat yang bersamaan, terdengar suara pintu ruang sebelah (kamar mandi) terbuka secara perlahan, aku terdiam dan berpikir keras, apakah ada orang atau hanya angin yang membuat pintu terbuka.

"Ehhmm..." gumamku hanya untuk menandakan bahwa ada orang disini.
 
Tetapi tidak ada satupun balasan dari kegelapan diruang sebelah. hal ini membuat bulu kudukku berdiri, aku berusaha mejernihkan pikiran, dan harus segera menyelesaikan kegiatanku ini secepat mungkin.
 
Diakhir kegiatanku ini akhirnya lampu kembali menyala seakan mempermainkanku, "huuuuuhhh akhirnya nyala lagi" bisikku sambil menghembuskan nafas dan melihat kearah fentilasi yang menghubungkan dengan ruangan sebelah, dan melihat sesuatu yang mungkin tidak akan bisa aku lupakan seumur hidup...sebuah kepala manusia dengan rambut lusuh...tidak beraturan panjang menjuntai sampai leher yang terlepas dari badannya, dengan 1 mata mendelik lebar berlumuran darah menatapku, aku tersontak kaget hampir terjatuh, tetapi tidak bisa bergerak lebih jauh, tubuhku bergetar hebat, ingin menjerit tetapi tidak satupun kata yang keluar dari mulutku, ketakutanku mungkin sudah sampai puncaknya. bau anyir darah memenuhi ruangan ini saat tiba² lampu sialan itu kembali mati.
 
Aku seakan tidak bisa mengontrol tubuhku, tidak ada satu tetespun keringat, seluruh tubuh serasa dingin, mati rasa, ketakutan yang belum pernah aku rasakan seumur hidup.

"BYURRR.....!!!" 

Sesuatu seakan dilempar kencang kedalam bak mandi disampingku ini. masih, aku tidak dapat menggerakkan tubuhku yang dingin dan bergetar hebat ini. Aku menengok kearah sumber suara, diikuti lampu kamar mandi sialan yang tiba² menyala... 

"AAAA.....AAAA..AAAA!!!" 

Aku bergetar, menganga dan berteriak kencang ketika kepala tadi sudah berada tepat didepan mukaku dengan mulut lebarnya yang tersenyum dan berbisik lirih.

"Aldi....."



END


11 Februari 2016
Wigar

email : wigarwijaya@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar