KOS
Sebuah Cerpen
by Ramd
Sebuah Cerpen
by Ramd
“Mbak Rina ini kuncinya, kamarnya
nomor 11 di lantai 2.”
“Makasih bu.”
Aku
mengambil kunci dari ibu kos dan segera menyuruh jasa angkut barang untuk
memindahkan barang-barangku ke kamar baruku. Kos ini berada di komplek
perumahan dan kamar kosnya berjumlah 15, rumah tempat tinggal pemilik kos serta
5 kamar kos berada di lantai 1 dan sisanya di lantai 2. Letak kamarku berada di
ujung kanan koridor. Bangunan kos ku yang baru ini lebih luas dari kos lamaku.
Keluar dari kamarku maka di sebelah kananku adalah tembok atau bisa dikatakan buntu dan sebelah kiri menuju ruang tamu, di sebelah kanannya adalah jalan menuju dapur dan kamar mandi. disamping ruang tamu terdapat tangga untuk menuju ke lantai 1. Di ruang tamu juga terdapat balkon yang menyajikan pemandangan taman spesial dari pemilik kos. Di taman juga tampak satu pohon nangka besar yang sedang berbuah banyak.
Keluar dari kamarku maka di sebelah kananku adalah tembok atau bisa dikatakan buntu dan sebelah kiri menuju ruang tamu, di sebelah kanannya adalah jalan menuju dapur dan kamar mandi. disamping ruang tamu terdapat tangga untuk menuju ke lantai 1. Di ruang tamu juga terdapat balkon yang menyajikan pemandangan taman spesial dari pemilik kos. Di taman juga tampak satu pohon nangka besar yang sedang berbuah banyak.
Suasana
siang ini sangat sepi karena penghuni kos masih banyak yang pulang kampung.
Dikarenakan Kos ini baru selesai dibangun jadi penghuni kosnya juga baru
sedikit. Di lantai 1 semua kamar telah penuh tapi 4 orang sedang pulkam. Di
lantai atas cuma ada aku dan mba Sheila penghuni kamar nomor 6.
Untuk
mengisi waktu aku pergi ke taman kos dan duduk di kursi yang tersedia dekat
pohon nangka. Sambil membaca buku yang baru aku beli kemarin aku menikmati
suara kicauan burung yang bermain di sekitaran taman. Sambil melepas lelah yang
kurasakan ditubuhku, karena 3 hari terakhir ini aku sangat sibuk mengurus
pindahan dari kos lamaku. Kemudian aku melihat seorang gadis kecil didepan
rumah pemilik kos. Gadis yang rambutnya dikuncir satu ini melihat kearahku. Aku
ingat kalau dia adalah anak satu-satunya pemilik kos ini, tapi aku tidak tahu
namanya. Aku pun menghampirinya tapi dia langsung lari masuk kerumah. ‘Mungkin
anak itu pemalu’ pikirku dalam hati.
Tengah
malam tiba, aku masih terjaga oleh aktifitas forum di internet. Aku menuliskan
AFK pada kolom chat dan beranjak pergi ke toilet. ketika keluar dari kamar, aku
terkaget melihat seorang cewek berbaju merah berkulit putih berada diujung
koridor berlari kesebelah kanan menuju dapur. Aku dengan perlahan menuju ke
arah berlarinya cewek itu sambil sedikit berteriak.
“Siapa disana?!”
Tidak
terdengar balasan. Aku takutnya kalau ternyata tadi itu maling. Lantai dua dikala itu seperti rumah kosong yang tidak
berpenghuni. karena malam itu cuma aku yang berada di lantai 2. Sebenarnya aku
ingin minta temani mba Sheila tapi mba Sheila sedang lembur bekerja dan akan
pulang saat pagi besok. Dengan mengumpulkan segenap keberanianku aku berjalan
perlahan menuju kemana cewek tadi berlari.
Disebelah
kanan ruang tamu terdapat raung dapur dan 3 kamar mandi yang dalam kondisi
gelap karena lampu tidak menyala. Aku pun menyalakan lampu dapur mengambil sapu
bersiap kalau terjadi hal yang tidak di inginkan. Aku mengecek setiap sudut,
seraya berjalan menuju ke 3 kamar mandi yang lampunya masih belum menyala.
sambil mengecek satu-satu kemudian aku mengecek kamar mandi terakhir. Aku
sedikit takut waktu itu terdengar suara keran air menyala dari kamar mandi
terakhir.
“Apakah ada orang!?”
“Tolong keluar sebelum aku panggil
polisi!!”
Ruangan
ini diam seribu bahasa. Karena tidak ada balasan aku menyalakan lampu kamar
mandi dan ternyata tidak ada siapa-siapa didalamnya. Aku mematikan kembali
lampu-lampu dikamar mandi dan menutup keran air yang menyala tadi. Tiba-tiba Tv
diruang tamu terdengar menyala aku sedikit kaget karena volume suaranya yang
lumayan keras. Hal yang membuatku lebih kaget adalah sebelum aku masuk ke ruang
tamu aku mendengar suara tawa anak-anak kecil. Aku menyelinap berjalan dari
sisi dapur namun sebelum masuk ke ruang tamu langkahku tiba-tiba terhenti. Aku melihat
dari tembok ruang tamu ada bayangan anak-anak seperti sedang bermain terkena
pantulan cahaya tv. Aku bergetar ketakutan karena berbagai macam hal dari
imajinasi liarku mulai bermunculan dan sangat takut untuk masuk ke ruang tamu.
Namun
tiba-tiba bayangan anak kecil itu berlari dan menghilang dari tembok. Saat itu
lah aku memberanikan diri masuk ke ruang tamu dan mendapati Tv masih tetap
menyala dan pintu balkon terbuka. Aku mematikan Tv dan menutup mengunci pintu
balkon. Saat ingin menutup balkon aku sempat melihat sesosok entitas berada
diatas pohon nangka di taman, namun sosok itu tiba-tiba menghilang. sambil
bergegas menutup pintu balkon aku berlari masuk ke kamar kos. Aku mengunci
pintu kamar dan bersembunyi diselimut. Aku menghabiskan malam ini tanpa bisa
tertidur setelahnya.
Pagi
hari aku sedikit kumal dan lesu. Tubuhku capek karena tidak bisa tidur
semalaman. Kemudian aku ceritakan kejadian malam itu kepada mba Sheila. Kata
mba Sheila dia tidak terlalu tahu tentang cewek berbaju merah dan kejadian yang
kualami kemarin malam, soalnya dia juga jarang ada di kos saat malam. Ada satu
penghuni lagi di lantai 1 namanya mba Yuni yang sama lemburnya dan pulang pada
saat pagi saja. Akhirnya aku menganggap kejadian malam kemarin hanya
halusinasiku saja.
Siang
akhirnya berganti malam. Sebelumnya aku telah menyalakan semua lampu dilantai
2. Saat aku masuk ke dapur aku melihat tumpukan piring gelas yang kotor bekas
aku pakai kemarin, saat itu aku agak malas mencucinya jadi aku biarkan saja.
Malam ini aku ingin langsung tidur lebih awal saja, takut kalau kejadian
seperti malam kemarin terjadi kembali. Aku mengunci pintu kamar kos dan bersiap
masuk keselimut. malam ini aku tidak mematikan lampu supaya aku tetap bisa
melihat disekitarku.
Malam
semakin larut. Aku tidak bisa tidur! Aku heran padahal sudah semalaman kemarin
aku tidak tidur. Sebenarnya aku sudah sangat capek malam ini seluruh tubuhku
sudah letih dan lesu. Ditengah keluh kesah ku ini tiba-tiba lampu dikamarku
mati. Aku kaget, tempat ini sudah sepi di tambah lagi dengan gelap benar-benar
sempurna. Aku mencari handphoneku disekitar tempat tidurku, lumayan buat
penerangan pikirku. Tapi sebelum aku menemukannya aku sadar ternyata lampu
koridor tetap menyala. Cahaya lampu koridor cukup terang jadi terlihat dari gorden
jendelaku. Namun tiba-tiba aku mendengar suara Tv diruang tamu menyala kembali.
Hal ini membuatku ketakutan, terpikir kejadian aneh akan menghampiriku lagi.
Volume suara Tv sangat kencang. Aku tetap mengurung diri dikamar sambil
mendengar suara channel tv yang berganti-ganti. Akhirnya channel tv itu
berhenti pada musik tradisional. Musik ini menambah pikiranku kemana-mana siapa
gerangan yang ada di ruang tamu? Belum sempat aku menebak-nebak tiba aku
terkejut sambil berteriak melihat ke arah gorden jendela. Terdapat siluet seseorang
yang kelihatan sedang menari-nari didepan jendela kamarku. Siluet itu
mondar-mandir sambil menari mengikuti musik dari tv. Aku sudah sangat ketakutan
melihat hal itu, mataku sudah meneteskan air mata. Aku bersembunyi didalam selimut
sambil menahan isak tangisku.
Setalah
beberapa menit kemudian aku mencoba melihat siluet itu namun dia telah
menghilang dari tempat tadi. Siluet menghilang, lampu dikoridor juga mati, cukup jelas bagiku semua lampu telah mati
seluruhnya. Namun aku bingung suara dari Tv masih terdengar sangat keras. Aku
berniat mematikan Tv tapi saat itu aku masih sangat ketakutan untuk keluar
kamar. Aku takut dengan apa yang akan aku dapati setelah keluar dari kamar ini.
Ditengah ketakutanku tersebut tiba-tiba aku mendengar suara.
“Mba Rina ada apa??!!”
“?!”
Aku
sadar itu suara ibu kos! aku dengan segera bangkit dari tempat tidur mengambil
menyalakan senter di meja kemudian membuka pintu dan menuju ruang tamu tempat
asal suara ibu kos tadi. Tetapi perlahan demi perlahan langkah kakiku melemah
karena ternyata tidak ada siapa-siapa disini. ‘Apa tadi aku salah
dengar?’pikirku. Tv yang tadi menyala kemudian aku matikan. saat aku matikan Tv
itu aku mendengar suara kran wastafel dari dapur. Aku baru sadar ternyata lampu
di dapur juga mati. Bukan cuma itu, hal yang membuatku merinding adalah juga
terdengar suara ribut dari piring-piring. Seakan ada yang sedang mencuci piring
didapur. ‘Apa ibu kos di dapur?’ pikirku. Diriku mulai was-was siapa gerangan
yang menyalakan kran malam-malam begini? Aku pun perlahan mendekat kedapur.
Suara keran semakin kencang terdengar. Aku menyorotkan senter perlahan dari
kiri ke kanan dan saat senter tertuju ke keran aku melihat cewek berbaju merah
bermuka pucat pasi dengan sekitaran matanya hitam dan pupilnya putih telah
melihat ke arahku sambil tersenyum lebar. ketika melihat itu aku begitu
kagetnya sampai aku tidak sempat berteriak karena tubuhku lunglai dan
pandangannku mulai gelap menghitam.
Keesokan
harinya aku tersadar dan berada disebuah kamar. ternyata ini adalah kamarnya
ibu kos. Aku ditemukan pingsan didepan dapur oleh mba Sheila. Aku yang masih
merinding dengan pengalaman malam itu kemudian menceritakannya kepada ibu kos.
Ibu kos setelah mendengar hal itu ekspresinya wajahnya berubah menjadi serius. Saat
itu aku menduga akan mendapatkan penjelasan yang mendetail, tapi jawaban yang
diberikan beliau tidak menjawab permasalahan yang kualami tadi malam. Beliau
hanya mengatakan.
“Jangan biarkan dapur kotor, selalu
bersihkan setiap hari.”
Setalah
berkata seperti itu ekspresi wajah ibu kos kembali normal dan tersenyum sambil
melihat kearahku. Aku sedikit kebingungan dengan perkataan ibu kos. Kemudian
Ibu kos berkata.
“Saya
rasa kejadian yang mba Rina alami diakibatkan oleh sesuatu, dan itu telah
menarik perhatian mereka.”
“Maksud
ibu? mereka?”
“Saran
saya mba Rina bersihkan saja dapur hari ini, paling tidak itu akan membantu.”
“??”
Setelah
itu aku beranjak duduk di taman kos memikirkan maksud dari perkataan ibu kos
tersebut. Kemudian seorang gadis kecil yang kemarin berjalan sambil melihatku
dari rumah ibu kos. Sepertinya dia ingin berteman denganku. Aku memanggilnya
dan dia tampak kebingungan mau menghampiriku atau tidak. Akhirnya dia
menghampiriku dan duduk di sebelahku.
“Siapa namamu gadis kecil?”
“Chelseaa, ka… kakak siapa?”
“Aku Rina penghuni baru kos.”
“nama…. namanya siapa?”
“Rina Arianti lengkapnya. Kamu kelas
berapa?”
“kelas…. dua Sd—kaka dari mana?”
“Dari kos gang sebelah sih.”
“hmm dari mana??”
“Kos itu chells, kos Tanjung Indah.”
Anak
ini sepertinya masih susah berbicara. Aku bicara perlahan sambil tersenyum
melihat gadis kecil ini yang dengan polosnya menampakkan ekspresi bingung. Setelah
berkenalan dengan gadis kecil itu besok dia berjanji akan mengajakku makan siang,
aku senang dengan ajakannya dan menerimanya.
Aku
kembali ke kos. Sangat berat bagiku untuk naik kembali ke lantai 2. Pikiranku
masih dipenuhi kejadian menakutkan malam itu. Teringat akan perkataan ibu kos
aku segera membersihkan dapur. Aku membersihkan piring-piring kotor didapur,
membersihkan bungkusan plastik-plastik dari makanan, sekalian membersihkan
ruang tamu dan koridor. Sebenarnya aku tidak terlalu suka bersih-bersih, salah
satu sifat jelekku adalah susah menjaga kebersihan dan ceroboh. Dulu aku tanpa
sengaja memecahkan vas bunga antik mahal pemilik kos ku sebelumnya dan akhirnya
di usir dari kos. sungguh pengalaman yang tidak menyenangkan. Tapi daripada
memikirkan itu lebih baik aku melanjutkan bersih-bersihku. Setelah selesai aku
pun sangat lelah dan segera tidur karena hari telah menjelang malam.
Ternyata
benar! malam itu aku tidak mendapat gangguan seperti malam-malam sebelumnya.
Aku sangat bahagia pagi ini. Aku pun menuju taman kos untuk menemui Chelsea.
Aku bertemu dengannya di kursi disitu.
“Halo Chellss.”
“Haloo”
“Mau makan apa hari ini?” aku lumayan kegirangan.
“hmm kaka suka spageti?”
“Wow aku suka banget!!”
“suka spaggeti??”
“iya aku suka banget chelllss.”
“kalau begitu tunggu disini aku
ambilkan, mama udah selesai masaknya tadi.”
“siap chellss!”
Gadis
kecil itu berlari kerumah dan membawa spageti. Namun ada yang aneh menurutku
saat itu. Lalu aku menanyakannya kepada Chelsea.
“Chels, kok kamu bawa spagetinya 3
porsi?”
“ohh ini buat temennya kaka yang dari
kos sebelumnya.katanya dia juga suka spageti”
“Teman? siapa chels??”
“Itu di belakang, teman yang kaka
gendong tiap hari, dari awal masuk ke kos ini”
---
END ---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar