Kamis, 18 Februari 2016

Kos



KOS
Sebuah Cerpen
by Ramd

“Mbak Rina ini kuncinya, kamarnya nomor 11 di lantai 2.”

“Makasih bu.”

Aku mengambil kunci dari ibu kos dan segera menyuruh jasa angkut barang untuk memindahkan barang-barangku ke kamar baruku. Kos ini berada di komplek perumahan dan kamar kosnya berjumlah 15, rumah tempat tinggal pemilik kos serta 5 kamar kos berada di lantai 1 dan sisanya di lantai 2. Letak kamarku berada di ujung kanan koridor. Bangunan kos ku yang baru ini lebih luas dari kos lamaku.
Keluar dari kamarku maka di sebelah kananku adalah tembok atau bisa dikatakan buntu dan sebelah kiri menuju ruang tamu, di sebelah kanannya adalah jalan menuju dapur dan kamar mandi. disamping ruang tamu terdapat tangga untuk menuju ke lantai 1. Di ruang tamu juga terdapat balkon yang menyajikan pemandangan taman spesial dari pemilik kos. Di taman juga tampak satu pohon nangka besar yang sedang berbuah banyak.

Suasana siang ini sangat sepi karena penghuni kos masih banyak yang pulang kampung. Dikarenakan Kos ini baru selesai dibangun jadi penghuni kosnya juga baru sedikit. Di lantai 1 semua kamar telah penuh tapi 4 orang sedang pulkam. Di lantai atas cuma ada aku dan mba Sheila penghuni kamar nomor 6.

Untuk mengisi waktu aku pergi ke taman kos dan duduk di kursi yang tersedia dekat pohon nangka. Sambil membaca buku yang baru aku beli kemarin aku menikmati suara kicauan burung yang bermain di sekitaran taman. Sambil melepas lelah yang kurasakan ditubuhku, karena 3 hari terakhir ini aku sangat sibuk mengurus pindahan dari kos lamaku. Kemudian aku melihat seorang gadis kecil didepan rumah pemilik kos. Gadis yang rambutnya dikuncir satu ini melihat kearahku. Aku ingat kalau dia adalah anak satu-satunya pemilik kos ini, tapi aku tidak tahu namanya. Aku pun menghampirinya tapi dia langsung lari masuk kerumah. ‘Mungkin anak itu pemalu’ pikirku dalam hati.

Tengah malam tiba, aku masih terjaga oleh aktifitas forum di internet. Aku menuliskan AFK pada kolom chat dan beranjak pergi ke toilet. ketika keluar dari kamar, aku terkaget melihat seorang cewek berbaju merah berkulit putih berada diujung koridor berlari kesebelah kanan menuju dapur. Aku dengan perlahan menuju ke arah berlarinya cewek itu sambil sedikit berteriak.

“Siapa disana?!”

Tidak terdengar balasan. Aku takutnya kalau ternyata tadi itu maling. Lantai dua dikala itu seperti rumah kosong yang tidak berpenghuni. karena malam itu cuma aku yang berada di lantai 2. Sebenarnya aku ingin minta temani mba Sheila tapi mba Sheila sedang lembur bekerja dan akan pulang saat pagi besok. Dengan mengumpulkan segenap keberanianku aku berjalan perlahan menuju kemana cewek tadi berlari.

Disebelah kanan ruang tamu terdapat raung dapur dan 3 kamar mandi yang dalam kondisi gelap karena lampu tidak menyala. Aku pun menyalakan lampu dapur mengambil sapu bersiap kalau terjadi hal yang tidak di inginkan. Aku mengecek setiap sudut, seraya berjalan menuju ke 3 kamar mandi yang lampunya masih belum menyala. sambil mengecek satu-satu kemudian aku mengecek kamar mandi terakhir. Aku sedikit takut waktu itu terdengar suara keran air menyala dari kamar mandi terakhir.

“Apakah ada orang!?”

“Tolong keluar sebelum aku panggil polisi!!”

Ruangan ini diam seribu bahasa. Karena tidak ada balasan aku menyalakan lampu kamar mandi dan ternyata tidak ada siapa-siapa didalamnya. Aku mematikan kembali lampu-lampu dikamar mandi dan menutup keran air yang menyala tadi. Tiba-tiba Tv diruang tamu terdengar menyala aku sedikit kaget karena volume suaranya yang lumayan keras. Hal yang membuatku lebih kaget adalah sebelum aku masuk ke ruang tamu aku mendengar suara tawa anak-anak kecil. Aku menyelinap berjalan dari sisi dapur namun sebelum masuk ke ruang tamu langkahku tiba-tiba terhenti. Aku melihat dari tembok ruang tamu ada bayangan anak-anak seperti sedang bermain terkena pantulan cahaya tv. Aku bergetar ketakutan karena berbagai macam hal dari imajinasi liarku mulai bermunculan dan sangat takut untuk masuk ke ruang tamu.

Namun tiba-tiba bayangan anak kecil itu berlari dan menghilang dari tembok. Saat itu lah aku memberanikan diri masuk ke ruang tamu dan mendapati Tv masih tetap menyala dan pintu balkon terbuka. Aku mematikan Tv dan menutup mengunci pintu balkon. Saat ingin menutup balkon aku sempat melihat sesosok entitas berada diatas pohon nangka di taman, namun sosok itu tiba-tiba menghilang. sambil bergegas menutup pintu balkon aku berlari masuk ke kamar kos. Aku mengunci pintu kamar dan bersembunyi diselimut. Aku menghabiskan malam ini tanpa bisa tertidur setelahnya.

Pagi hari aku sedikit kumal dan lesu. Tubuhku capek karena tidak bisa tidur semalaman. Kemudian aku ceritakan kejadian malam itu kepada mba Sheila. Kata mba Sheila dia tidak terlalu tahu tentang cewek berbaju merah dan kejadian yang kualami kemarin malam, soalnya dia juga jarang ada di kos saat malam. Ada satu penghuni lagi di lantai 1 namanya mba Yuni yang sama lemburnya dan pulang pada saat pagi saja. Akhirnya aku menganggap kejadian malam kemarin hanya halusinasiku saja.

Siang akhirnya berganti malam. Sebelumnya aku telah menyalakan semua lampu dilantai 2. Saat aku masuk ke dapur aku melihat tumpukan piring gelas yang kotor bekas aku pakai kemarin, saat itu aku agak malas mencucinya jadi aku biarkan saja. Malam ini aku ingin langsung tidur lebih awal saja, takut kalau kejadian seperti malam kemarin terjadi kembali. Aku mengunci pintu kamar kos dan bersiap masuk keselimut. malam ini aku tidak mematikan lampu supaya aku tetap bisa melihat disekitarku.

Malam semakin larut. Aku tidak bisa tidur! Aku heran padahal sudah semalaman kemarin aku tidak tidur. Sebenarnya aku sudah sangat capek malam ini seluruh tubuhku sudah letih dan lesu. Ditengah keluh kesah ku ini tiba-tiba lampu dikamarku mati. Aku kaget, tempat ini sudah sepi di tambah lagi dengan gelap benar-benar sempurna. Aku mencari handphoneku disekitar tempat tidurku, lumayan buat penerangan pikirku. Tapi sebelum aku menemukannya aku sadar ternyata lampu koridor tetap menyala. Cahaya lampu koridor cukup terang jadi terlihat dari gorden jendelaku. Namun tiba-tiba aku mendengar suara Tv diruang tamu menyala kembali. Hal ini membuatku ketakutan, terpikir kejadian aneh akan menghampiriku lagi. Volume suara Tv sangat kencang. Aku tetap mengurung diri dikamar sambil mendengar suara channel tv yang berganti-ganti. Akhirnya channel tv itu berhenti pada musik tradisional. Musik ini menambah pikiranku kemana-mana siapa gerangan yang ada di ruang tamu? Belum sempat aku menebak-nebak tiba aku terkejut sambil berteriak melihat ke arah gorden jendela. Terdapat siluet seseorang yang kelihatan sedang menari-nari didepan jendela kamarku. Siluet itu mondar-mandir sambil menari mengikuti musik dari tv. Aku sudah sangat ketakutan melihat hal itu, mataku sudah meneteskan air mata. Aku bersembunyi didalam selimut sambil menahan isak tangisku.

Setalah beberapa menit kemudian aku mencoba melihat siluet itu namun dia telah menghilang dari tempat tadi. Siluet menghilang, lampu dikoridor juga mati,  cukup jelas bagiku semua lampu telah mati seluruhnya. Namun aku bingung suara dari Tv masih terdengar sangat keras. Aku berniat mematikan Tv tapi saat itu aku masih sangat ketakutan untuk keluar kamar. Aku takut dengan apa yang akan aku dapati setelah keluar dari kamar ini. Ditengah ketakutanku tersebut tiba-tiba aku mendengar suara.

“Mba Rina ada apa??!!”

“?!”

Aku sadar itu suara ibu kos! aku dengan segera bangkit dari tempat tidur mengambil menyalakan senter di meja kemudian membuka pintu dan menuju ruang tamu tempat asal suara ibu kos tadi. Tetapi perlahan demi perlahan langkah kakiku melemah karena ternyata tidak ada siapa-siapa disini. ‘Apa tadi aku salah dengar?’pikirku. Tv yang tadi menyala kemudian aku matikan. saat aku matikan Tv itu aku mendengar suara kran wastafel dari dapur. Aku baru sadar ternyata lampu di dapur juga mati. Bukan cuma itu, hal yang membuatku merinding adalah juga terdengar suara ribut dari piring-piring. Seakan ada yang sedang mencuci piring didapur. ‘Apa ibu kos di dapur?’ pikirku. Diriku mulai was-was siapa gerangan yang menyalakan kran malam-malam begini? Aku pun perlahan mendekat kedapur. Suara keran semakin kencang terdengar. Aku menyorotkan senter perlahan dari kiri ke kanan dan saat senter tertuju ke keran aku melihat cewek berbaju merah bermuka pucat pasi dengan sekitaran matanya hitam dan pupilnya putih telah melihat ke arahku sambil tersenyum lebar. ketika melihat itu aku begitu kagetnya sampai aku tidak sempat berteriak karena tubuhku lunglai dan pandangannku mulai gelap menghitam.

Keesokan harinya aku tersadar dan berada disebuah kamar. ternyata ini adalah kamarnya ibu kos. Aku ditemukan pingsan didepan dapur oleh mba Sheila. Aku yang masih merinding dengan pengalaman malam itu kemudian menceritakannya kepada ibu kos. Ibu kos setelah mendengar hal itu ekspresinya wajahnya berubah menjadi serius. Saat itu aku menduga akan mendapatkan penjelasan yang mendetail, tapi jawaban yang diberikan beliau tidak menjawab permasalahan yang kualami tadi malam. Beliau hanya mengatakan.

“Jangan biarkan dapur kotor, selalu bersihkan setiap hari.”

Setalah berkata seperti itu ekspresi wajah ibu kos kembali normal dan tersenyum sambil melihat kearahku. Aku sedikit kebingungan dengan perkataan ibu kos. Kemudian Ibu kos berkata.

“Saya rasa kejadian yang mba Rina alami diakibatkan oleh sesuatu, dan itu telah menarik perhatian mereka.”

“Maksud ibu? mereka?”

“Saran saya mba Rina bersihkan saja dapur hari ini, paling tidak itu akan membantu.”

“??”

Setelah itu aku beranjak duduk di taman kos memikirkan maksud dari perkataan ibu kos tersebut. Kemudian seorang gadis kecil yang kemarin berjalan sambil melihatku dari rumah ibu kos. Sepertinya dia ingin berteman denganku. Aku memanggilnya dan dia tampak kebingungan mau menghampiriku atau tidak. Akhirnya dia menghampiriku dan duduk di sebelahku.

“Siapa namamu gadis kecil?”
“Chelseaa, ka… kakak siapa?”
“Aku Rina penghuni baru kos.”
“nama…. namanya siapa?”
“Rina Arianti lengkapnya. Kamu kelas berapa?”
“kelas…. dua Sd—kaka dari mana?”
“Dari kos gang sebelah sih.”
“hmm dari mana??”
“Kos itu chells, kos Tanjung Indah.”

Anak ini sepertinya masih susah berbicara. Aku bicara perlahan sambil tersenyum melihat gadis kecil ini yang dengan polosnya menampakkan ekspresi bingung. Setelah berkenalan dengan gadis kecil itu besok dia berjanji akan mengajakku makan siang, aku senang dengan ajakannya dan menerimanya.

Aku kembali ke kos. Sangat berat bagiku untuk naik kembali ke lantai 2. Pikiranku masih dipenuhi kejadian menakutkan malam itu. Teringat akan perkataan ibu kos aku segera membersihkan dapur. Aku membersihkan piring-piring kotor didapur, membersihkan bungkusan plastik-plastik dari makanan, sekalian membersihkan ruang tamu dan koridor. Sebenarnya aku tidak terlalu suka bersih-bersih, salah satu sifat jelekku adalah susah menjaga kebersihan dan ceroboh. Dulu aku tanpa sengaja memecahkan vas bunga antik mahal pemilik kos ku sebelumnya dan akhirnya di usir dari kos. sungguh pengalaman yang tidak menyenangkan. Tapi daripada memikirkan itu lebih baik aku melanjutkan bersih-bersihku. Setelah selesai aku pun sangat lelah dan segera tidur karena hari telah menjelang malam.

Ternyata benar! malam itu aku tidak mendapat gangguan seperti malam-malam sebelumnya. Aku sangat bahagia pagi ini. Aku pun menuju taman kos untuk menemui Chelsea. Aku bertemu dengannya di kursi disitu.

“Halo Chellss.”
“Haloo”
“Mau makan apa hari ini?” aku lumayan kegirangan.
“hmm kaka suka spageti?”
“Wow aku suka banget!!”
“suka spaggeti??”
“iya aku suka banget chelllss.”
“kalau begitu tunggu disini aku ambilkan, mama udah selesai masaknya tadi.”
“siap chellss!”

Gadis kecil itu berlari kerumah dan membawa spageti. Namun ada yang aneh menurutku saat itu. Lalu aku menanyakannya kepada Chelsea.

“Chels, kok kamu bawa spagetinya 3 porsi?”
“ohh ini buat temennya kaka yang dari kos sebelumnya.katanya dia juga suka spageti”
“Teman? siapa chels??”
“Itu di belakang, teman yang kaka gendong tiap hari, dari awal masuk ke kos ini”

--- END ---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar