THEME PARK
By Donkey
McCrap
Cerita ini aku tulis berdasarkan
kisah nyata yang aku dengar dari teman-temanku saat aku bekerja di salah satu
theme park yang ada di kota Batu, Jawa Timur. Awalnya aku tak percaya dengan
cerita tersebut, tapi karena lebih dari 4 orang yang pernah cerita tersebut
kepadaku, aku pun tak punya alasan lagi untuk tidak percaya. Cerita ini yang
jelas bergenre horror yang settingya adalah Rumah Hantu di salah satu theme
park.
Kenapa aku bilang cuman di salah satu theme park, karena theme park ini berada dibawah naungan satu perusahaan/ group dan memiliki beberapa theme park di kota Batu, sejauh yang aku ketahui mereka punya 2 wahana Rumah Hantu, yang satu berada di Theme Park 1 dan yang lain ditempatkan di Theme Park 2. Theme Park 1 adalah theme park pertama yang dimiliki perusahaan ini, dan merupakan theme park tertua yang ada di kota Batu. Pada awal-awal dibukanya theme park 1, tempat ini hanya memiliki beberapa wahana, dan salah satunya adalah Rumah Hantu. Sekilas aku berpikir kenapa wahana dengan tema horor seperti itu masih dipertahankan sampai sekarang, entah kejadian apa saja yang terjadi dan yang menimpa pengunjung ataupun pekerjanya di Rumah Hantu itu, ngeri juga aku memikirkannya. Ok, kita langsung saja ke cerita intinya. Dalam cerita ini aku membuat tiga karakter, yaitu Alma, Siwang, dan Pati, mereka adalah mahasiswa semester 7 Universitas Brawijaya jurusan sastra inggris.
Kenapa aku bilang cuman di salah satu theme park, karena theme park ini berada dibawah naungan satu perusahaan/ group dan memiliki beberapa theme park di kota Batu, sejauh yang aku ketahui mereka punya 2 wahana Rumah Hantu, yang satu berada di Theme Park 1 dan yang lain ditempatkan di Theme Park 2. Theme Park 1 adalah theme park pertama yang dimiliki perusahaan ini, dan merupakan theme park tertua yang ada di kota Batu. Pada awal-awal dibukanya theme park 1, tempat ini hanya memiliki beberapa wahana, dan salah satunya adalah Rumah Hantu. Sekilas aku berpikir kenapa wahana dengan tema horor seperti itu masih dipertahankan sampai sekarang, entah kejadian apa saja yang terjadi dan yang menimpa pengunjung ataupun pekerjanya di Rumah Hantu itu, ngeri juga aku memikirkannya. Ok, kita langsung saja ke cerita intinya. Dalam cerita ini aku membuat tiga karakter, yaitu Alma, Siwang, dan Pati, mereka adalah mahasiswa semester 7 Universitas Brawijaya jurusan sastra inggris.
13 October 2016
Namaku Alma, aku berusia 19 tahun
dan saat ini sedang kuliah di sebuah universitas bernama Brawijaya di Malang,
aku mengambil jurusan sastra inggris dan saat ini sudah semester 7. Hari ini
aku ada rencana liburan dengan kedua kawanku yang sudah kita rencanakan sejak
seminggu lalu. Oh iya, nama temanku ini adalah Siwang dan Pati, kami sangat
akrab diluar maupun didalam kampus, alasannya mungkin karena kami saling cocok,
dan untung lah kita dipertemukan dalam satu kelas saat masih semester 1.
Jam telah menunjukkan pukul 7:00
am, waktu yang kita sudah janjikan untuk berkumpul didepan gedung rektorat, dan
karena terlalu semangat kami pun langsut berangkat bersama ke Theme Park 1 yang
berada di Batu. Kami memilih TP1 karena letaknya yang berdekatan dengan kota
Malang dan hanya membutuhkan 1 jam perjalanan, biar kita gak kecapaian karena
kuliah sedang sibuk-sibuknya.
Jam menunjukan pukul 8:13 dan
kami sudah sampai di TP1 dan mendapati TP1 belum buka yang ditandakan dengan
tempat penjualan tiket yang masih tutup.
Pati: “Gue bilang juga apa nyet,
bukanya jam 9, ini mah masih jam 8 seperempat, yaahh nunggu lama nih. Males
banget gue.”
Siwang: “Laahhh,, kan biar
ngerasain udara sejuk kota Batu njing, pemandangannya juga lumayan dari sini.”
Pati: “Lu enak baru kali ini
kesini, lah gue udah berkali-kali kesini, bosen gue.”
Siwang: “Salah lu sendiri njing,
lu setuju-setuju aja waktu kita bikin rencana kesini.”
Pati: “Ya setuju lah, orang
kalian berdua belum pernah kesini.”
Siwang: “Yaudah, gak usah bacot
lagi nyet.”
Alma: “Udah-udah, bacot mulu nih
berdua, gue kenalin abang-abang yang itu baru tau rasa lu berdua (menunjuk
kearah salah satu pegawai TP1 yang keliatannya cowok melambai).”
Pati: “Janc*k, masih ada aja
cowok macam gitu.”
Alma: “Foto-foto aja yuk biar gak
bosen.”
Akhirnya kami pin berfoto-foto
ria sembari menghilangkan kebosanan menunggu kotak tiket yang belum dibuka. Aku
baru menyadari TP1 hari ini sedikit pengunjungngya, dilihat dari jumlah orang
yang sedang menunggu kotak tiket dibuka, hanya ada sekitar seratusan orang,
yaaaa untuk theme park itu jumlah yang sedikit. Mungkin karena hari ini hari
kerja jadi pengunjungnya hanya sedikit.
Akhirnya jam menunjukkan pukul
9:00, dan ternyata kotak tiket belum dibuka. “Dasar jam karet.” Kata Siwang.
Baru lima menit kemudian ticket box dibuka.
Pati: “Ini ada 2 jenis tiket,
yang 1 harganya 15rb, bias masik tapi gak bias nyobain wahana. Nah, yang 1 nya
lagi 60rb, bisa nyobain semua wahana. Kalian pilih yang mana?”
Siwang: “ya pilih yang 60rb lah,
masa ke theme park cuman mau melongo doing, goblok banget lu.”
Pati: “Gue nanya juga baik-baik,
asyuu…”
Alma: “Yaudah, yang 60rb 3, Pat.”
Dan yeeeyyy, akhirnya kami masuk
ke Theme Park 1. Di pintu masuk kami disambut diorama motor klasik dan juga
patung yang dipakaikan pakaian adat khas suku-suku di Indonesia serta juga ada
harimau di kandang yang cuman berdinding kaca. “Penataan yang kacau.” gumamku.
Tapi meskipun penataannya kacau toh kami berfoto-foto ria disitu, entahlah.
Setelah itu kami masuk ke tempat
wahana-wahana berada.
Pati: “Nyobain yang mana dulu
nih? Rumah Hantu dulu gimana?”
Siwang: “yaaahhh, masa pagi-pagi
udah masuk ke rumah hantu, gak ada seremnya ntar, gak ada gregetnya.”
Alma: “Nyobain bump bump car dulu
yuk, kayaknya seru.”
Siwang: “Bump bump car? Bumper
car kali, hedheh.”
Akhirya mencoba beberapa wahana
seperti bumper car, star case, dragon coaster, volcano coaster, dll. Dan
akhirnya mata kami tertuju pada satu wahana, yaitu pendulum 360, sebuah wahana
dimana si penumpang akan diputar 360 derajat secara vertical dan horizontal
dengan pendulum setinggi sekitar 5 meter, yang berarti titik tertinggi pendulum
tersebut adalah 10 meter, wow. Kami pun mencoba wahana tersebut tanpa harus
antri lama. Sempat ada pikiran negative saat aku duduk di wahana ini, bayangkan
pendulumnya lepas saat berakselerasi, bisa mati semua nih penumpangnya.
Wahana pendulum 360 pun dimulai,
pertama-tama kami diputar secara horizontal ke kanan dan ke kiri, kemudian
secara vertical ke depan dan ke belakang. Aku mendengar suara Pati dan Siwang
berteriak-teriak disampingku, sementara aku, mencoba teriakpun aku tak bisa
seakan-akan dadaku ditekan oleh angin. Setelah itu wahana ini sampai ke gerakan
akhirnya dimana penumpang diputar 360 derajat searah jarum jam dan pula diputar
secara horizontal kearah kanan dan kiri. Ini membuatku tak bisa bernafas, dan
teriakan-teriakan penumpang lainnya adalah suara yang terakhir aku dengar. Ya,
aku pingsan.
Bangun-bangun ternyata aku sudah
terbaring di bagian klinik Theme Park 1, dan duduk disampingku Siwang yang
masih tampak segar dan Pati yang duduk sambil memegang kantong plastic hitam.
Untunglah, aku masih hidup.
Siwang: “Udah bangun Al? Gimana
sih? Katanya mau liburan kok malah ketiduran? Hehehe.”
Alma: “Gue pingsan, kampret.”
Siwang: “Ini juga si Pati,
katanya sering kesini, naik pendulum aja muntah-muntah. Kayak cewek aja lu.”
Pati: “Asyu, gue belum makan dari
pagi.”
Siwang: “Salah sendiri belum makan.”
Aku meminum segelas air mineral
yang Siwang kasih padaku, aku merasakan tubuhku sudah enakan walaupun masih
agak ngefly gitu. Aku keluar dari klinik untuk mencari udara segar agar lebih
rileks, Pati dan Siwang tidak ikut, alasannya karena Pati merasa mual dan
Siwang kebelet poop. Aku liat-liat letak klinik ini masih berada disekitar
wahana-wahana di TP1, mungkin supaya cepat untuk evakuasi pengunjung pingsan.
10 menit kemudian Siwang dan Pati
keluar dari klinik, jam menunjukkan pukul 14:13, kupikir lama juga kami di
klinik.
Siwang: “Kayaknya enak nih kalau
ke Rumah Hantu.”
Pati: “Sial, baru aja enakan nih
badan udah ke rumah hantu aja.”
Alma: “Iya nih, lu ke temen
sendiri jangan kejem napa.”
Siwang: “Cengeng amat lu berdua,
lagian di rumah hantu kita gak naik-naik apa-apa lagi. Palingan cuman jump
scare doang. Bener gak Pat?”
Pati: “Iya juga sih, gue udah
sering masuk rumah hantu, and gak serem-serem amat emang.”
Alma: “Yaudah deh.”
Akhirnya kami pun masuk ke rumah
hantu, tapi kami harus antri dulu. Sekitar 15 menit kemudian baru giliran kami.
Aku baru menyadari ternyata orang yang jaga wahana ini adalah cowok yang
keliatannya melambai tadi pagi. Kami pun senyum-senyum sendiri. Dari nametag-nya
aku tau kalau namanya Fauzi.
Fauzi: “Bertiga aja nih?”
Pati: “Iya mas, ganjil kan lebih
serem.hehehe”
Fauzi: “Oke, jadi aturannya gini,
kalian jalan aja menyusuri lorong ini, jalannya gampang kok ada arah
petunjuknya, dan ingat, yang paling berani paling depan , jadi ntar kalo ada
yang takut gak usah lari karena ntar kalian bisa jatoh atau keseleo dan
property rumah hantu bisa rusak.”
Siwang: “Sipp mas. Paham.”
Fauzi: “Ok, silahkan dimulai.”
Benar juga dugaanku, si Fauzi ini
memang agak melambai. Aku pun menahan tawa saat dia menjelaskan aturan wahana
ini. Daannn, kami pun masuk ke rumah hantu, Pati kami letakkan didepan karena
menurut kami dialah yang paling pengalaman disini, yaiyalah, dia kan yang
paling sering kesini. Kami pun melewati rintangan pertama, yaitu patung pocong
yang bergerak-gerak sendiri, aku kaget karena suaranya, apalagi ditambah
ruangan yang gelap yang hanya diterangi lampu kecil temaram. Tapi aku positive
thinking aja, toh semuanya cuman patung.
Pati mengatakan rumah hantunya
udah hamper selesai, sebelum keluar kami melewati ruangan gelap, dan yang
menunggu kami adalah pocong yang meloncat-loncat kearah kami, kami merinding,
karena dari awal cuman ada patung. Saat melompat-lompat melewati kami, si
pocong ini tak henti-hentinya melotot ke kami dengan make up nya yang luar
biasa membuat ngeri. Setelah pocong tersebut melewati kami, kami pun berlari ke
pintu keluar, kami pun tertawa lepas. Fyi, pintu keluar terletak pas disamping
pintu masuk, jadi kami bertemu si Fauzi ini lagi.
Alma: “Gila, endingnya ngeri
banget, dari awal cuman patung, dibelakang ada cosplay pocong! Hahahaha.”
Siwang: “Gila, hamper jantungan
gue. Hahahaha.”
Pati: “Sumpah, serem banget tuh
pocong, padahal dulu gak ada yang kek gitu. Ngomong-ngomong mas Fauzi, itu
sejak kapan ada orang yang berkostum pocong? Serem banget sumpah.”
Fauzi: “Orang berkostum pocong?
Wah, kita mah gak ada yang kayak gitu mas, cuman patung aja di dalam. Mungkin
mas ketemu pegawai yang iseng.hehehehe”
Pati: “Tapi isengnya kok niat
banget mas, sampe make kostum pocong gitu?”
Fauzi: “Ya emang pegawainya udah
mati mas, dulu ada teknisi yang lagi memperbaiki masalah kelistrikan di rumah
hantu, eh malah mati kena serangan jantung waktu di dalam.”
Usai mendengar penjelasan itu
kami pun diam, kami menuju tempat kami duduk tadi dan tak lagi membicarakan
sesuatu, didepan klinik aku pun duduk di tempat tadi dan mendapati Pati dan
Siwang tidak ada dibelakangku. Entah mengapa aku merasa hampa dan sedih,
kepalaku menengadah ke langit dan memejamkan mata hingga sebuah suara
mengagetkanku.
?: “Kayaknya enak nih kalau ke
Rumah Hantu.”
Aku melihat Siwang dan Pati
keluar dari klinik, kupikir kenapa mereka masuk ke klinik lagi. Ah sudahlah,
tak usah kupikirkan, konsenku hilang mengingat mata dan muka pocong tadi.
Siwang: “Heh Al, ditanya kok gak
nyaut. Kayaknya enak nih kalau ke Rumah Hantu. Gimana?”
Alma: “Gile lu, baru juga dari
situ udah mau masuk lagi, gak mau.”
Siwang: “Lu mimpi? Gue sama Pati
baru keluar dari klinik. Makanya kalau tidur jangan diluar, di kursi pula,
kemasukan setan gak jadi liburan kita ntar.hahaha”
Alma: “Beneran!! Kita bertiga
baru kesana tadi, baru aja kita nyampek sini lagi.”
Pati: “Al, lu itu baru keluar
sepuluh menit yang lalu. Yang gue liat lu ketiduran disini.”
Masa iya aku mimpi tadi, tapi kenapa
terasa nyata banget. Tapi kenapa aku merasa hampa, dan sedih pula, moodku jadi
kelam. Siwang tetap memaksa ke rumah hantu, akhirnya aku dan Pati mengiyakan.
Sesampainya didepan rumah hantu kami mendapati papan yang diletakkan didepan
rumah hantu bertuliskan “Wahana dalam perbaikan. Mohon maaf atas ketidak
nyamanannya.”
Aku baru kali ini ke TP1 dan
tentunya rumah hantunya juga, apa yang aku liat saat ini persis dengan apa yang
aku lihat di mimpi. Apa benar itu cuman mimpi? Entahlah, pikiranku berkecamuk,
aku merasa sedih, apa aku terlihat muram?
Pati: “Yaahhhhhhhh,,, rumah
hantunya tutup. Gimana kalau main bumper car lagi, 1 wahana kan bisa dicoba
lagi.”
Aku dan Siwang pun meniyakan,
kami pun ke wahana bumper car. Kami pun antri. 10 menit kemudian giliranku naik
wahana, dan yang menjaga wahana ini adalah cowok melambai yang ada di mimpiku
dan yang aku temui tadi pagi. Dia mengecek tiketku. Dia berkata padaku, “Mbak.”
Aku menoleh ke dia, dan aku ingat sesuatu, wajahnya mirip pocong yang aku
temui. Aku ketakutan, dia menyeringai kepadaku, aku ingin berteriak tapi aku
tak mampu, tubuhku terlalu hampa, terasa hampa, iya, sangat hampa, aku seperti
tak punya raga.
3 JAM SEBELUMNYA
“MOHON UNTUK PARA PENGUNJUNG
THEME PARK 1 UNTUK MENJAUHI AREA WAHANA PENDULUM 360 UNTUK MEMPERLANCAR
EVAKUASI KORBAN. TERIMA KASIH.”
Hari itu pendulum 360 mengalami
maintenance, pendulum terlepas saat berputar 360 derajat penuh. 20 dari 20
penumpang tewas, termasuk Alma, Siwang, dan Pati. Polisi melakukan olah TKP dan
menyatakan Ahmad Fauzi, operator wahana pendulum 360, sebagai tersangka karena
tidak mengikuti prosedur cara mengoperasikan pendulum 360. Polisi masih
mendalami apakah tindakan Fauzi disengaja atau tidak.
The End
Oh iya, ada info menarik dari
cerita ini. Aku membuat nama karakter berdasar Google Translator, dimana aku
mentranslate kata “Kematian” ke dalam tiga Bahasa, yaitu Chinesse traditional,
Arab, dan Bahasa Jawa. Hasilnya adalah:
- ALMAWT
dalam Bahasa Arab
- SIWANG
dalam Bahasa China Tradisional
- PATI
dalam Bahasa Jawa
Thank You.
21 Februari 2016
Donkey McCrap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar