Kamis, 18 Februari 2016

Cowok yang Aku Suka


Cowok yang Aku Suka
Sebuah Cerpen
By Ramd





“Bella ayo makan ke kantin.”


“Eh baik, tunggu Sal!”


Sebelum keluar dari kelas aku menengok sekali lagi kebelakang melihat seseorang yang selalu menggetarkan hatiku. Seseorang itu adalah cowok bernama Daniel. Postur tubuhnya tinggi, senyuman dan pandangannya selalu membuat hatiku berdegup amat kencang. Dia adalah pangeranku. Dia adalah cahaya yang menerangi hari-hari ku. Dia adalah cowok yang aku suka.



Aku telah jatuh cinta pada Daniel sejak pertama kali bertemu dengannya di kelas 1. Sekarang aku kelas 2 dan duduk bersebelahan dengannya. Selama setahun ini aku masih belum bisa menyatakan perasaanku padanya. Disamping takut ditolak aku juga sangat malu kalau berbicara dengannya. Terdiam sambil memikirkan Daniel tiba-tiba Sally menarik lenganku.


“Ayo Bell~ nanti waktu istirahatnya habis.”


“Baik Sal tunggu sebentar.”


Sally dengan tidak sabar menarik tanganku sambil berjalan menuju ke kantin. Temanku yang satu ini sangat senang sekali kalau urusan makan. Sally sangat cantik, penampilannya sangat rapi dan dia juga sangat pintar. Aku juga senang berteman dengannya karena dia orangnya ramah. Aku pun segera beranjak dari tempat dudukku mengikuti Sally.


Perjalanan dari kelas menuju kantin pun pikiranku terus di penuhi dengan Daniel. Saat makan pun aku terus saja terbayang olehnya. Sally yang memanggilku pun kadang aku tidak sadar.


“Bell, nanti sore ekskul renang datang ya.”

“loh hari ini latihan?”

“Iya Bell, dua bulan lagi kana ada lomba. Kamu harus ikut latihan. Member kita sekarang banyak yang jarang datang”

“Loh banyak yang keluar? Bukannya masih ada si Linda ya? Dia kan yang paling rajin latihan.”

“Nah itu masalahnya. Tadi aku datang ke kelasnya katanya dia sudah tidak masuk sekolah seminggu ini.”

“Waduh kenapa ya? padahal perlombaan tinggal 2 bulan lagi.”

“Makanya Bell, sore ini kamu datang ya.”

“Okee nanti abis kelas aku langsung ke kolam renang.”

“Hehehe makasih Bell” Sally memelukku sangat erat.


Memang susah kalau punya teman ketua ekskul renang. Aku tidak bisa menolak permintaan Sally apalagi dengan wajah memelas andalannya itu. Aku benar-benar dikalahkan olehnya.

Sepulang sekolah aku disuruh guru untuk mengantarkan kertas laporan minggu ini ke ruang guru. Aku berjalan cepat mengantarkan laporan-laporan ini karena aku ingin segera menuju kolam renang. Aku pun semakin bergegas sambil sedikit berlari dikoridor dan saat aku berbelok ke kiri tiba-tiba aku menubruk seseorang.


Bruakk!


Lembaran laporan pun berserakan dilantai. Aku terjatuh sambil agak panik dan ingin berdiri untuk segera mengumpulkan lembaran tadi, namun setelah melihat siapa gerangan yang ku tubruk tadi. Alangkah kagetnya aku ternyata orang itu adalah Daniel. Hatiku berdegup dan aku semakin panik dibuat olehnya.


“Maaf Bella, Kamu bisa berdiri?” Daniel mengulurkan tangannya kepada aku yang masih shock terduduk.

“Ahh?!? Iya!! Maaf ya Daniel! Tadi aku lari-lari!” Aku menggapai tangannya dan berdiri.

“Tidak apa-apa Bell, kamu tidak apa-apa kan ya?”

“Iya tidak apa-apa makasih ya. Aku tadi mau ke ruang guru, kamu mau kemana Dan?”

“Ada barangku ketinggalan di Kelas.”


Aku benar-benar bahagia sore ini. Bisa berbicara dengan Daniel, bukan cuma itu dia juga menolongku mengumpulkan lembaran yang tadi berserakan. Aku tidak akan lupa saat tadi dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Oh tuhan aku tidak akan mencuci tangan ini hehehe~ Sambil berjalan menuju kolam renang aku tersenyum juga merasakan perasaan hangat karena hatiku sangat gembira. Latihan sore itu pun aku sangat bersemangat. Anggota yang lainnya takjub melihat progress ku dan yang paling gembira melihatku adalah temanku Sally. Tidak terasa latihan berakhir dan sudah waktunya untuk pulang.


“Yeee Bella kelihatannya senang banget ya hari ini~ Kalau latihannya sebagus ini bisa-bisa kamu bisa melampaui Linda hahaha.”

“Hmm aku terkena suntikan motivasi tadi.”

“Loh kamu sudah jadian sama pangeran misteriusmu itu?”

“Bukaaan, tadi aku cuma tidak sengaja bertemu dengannya.”

“Ciee bagusslaah Bell, ngomong-ngomong siapa sih pangeranmu itu?”

“Hehe nanti kalau aku sudah menyatakan perasaanku aku kasih tau deh.” Aku agak malu.


“Oke janji ya!”

“Sal kamu juga terlihat senang sejak mulai latihan tadi, kena suntikan motivasi juga? hmm.”

“Tau aja kamu Bell, hahaha – Sebenarnya lebih besar dari itu Bell.”

“Ehh apaan Sal? Aku penasaran nih?!”

“Itu…. hehe jangan bilang siapa-siapa ya, Aku habis pulang sekolah tadi ditembak sama Daniel!!”

“Eh?”

“Kami Jadian sekarang Bell.”

“….”


Aku sangat kaget dan shock mendengar apa yang dikatakan Sally. Padahal baru beberapa saat tadi aku masih sangat bahagia. Tetapi perasaan itu kini tiba-tiba telah lenyap. Dadaku terasa sesak dan kata-kata susah keluar dari mulutku.


“Ka.... kamu jadian sama Daniel?”

“Iya Bell sekarang kami sudah resmi pacaran.”

“O.. ohh selamat ya Sal.”


Aku hanya tersenyum palsu menyembunyikan tangisan didalam hatiku. Aku menjulurkan tangan ingin menyelamatinya. Sally dengan cepat langsung memelukku dia terlihat sangat bahagia. Melihat betapa bahagianya dirinya saat itu hatiku makin hancur berkeping-keping.

Besoknya karena hari libur aku pergi keluar untuk berbelanja. Kepalaku terasa berat hari ini karena malam kemarin aku tidak bisa tidur. Aku terus terpikir apa perkataan Sally kemarin tentang dia jadian dengan Daniel.


Diperjalan pulang aku tidak sengaja berpapasan dengan Sally. Dia keluar dari café tidak jauh dari depanku. Dia menyadariku dan memanggilku. Saat aku ingin memanggil balik dirinya tiba-tiba suaraku tertahan melihat seorang cowok juga keluar dari café itu. Ya cowok itu adalah Daniel. Mereka menghampiriku dan menyapaku. Sally memperkenalkan aku kepada Daniel kalau aku adalah teman terbaik baginya. Saat itu aku hampir menangis tapi ternyata aktingku sangat baik sehingga mereka tidak menyadarinya.


Dirumah, tepatnya dikamarku aku pun menangis kembali. Mengingat tadi Sally sangat mesra dengan Daniel. Rasa sakit didada terus naik ke mataku membuat air mata terus mengalir. Namun ditengah isak tangisku ini aku juga sedikit tertawa. Di dalam hatiku yang tercabik-cabik ini ternyata aku masih bisa merasakan sedikit kebahagian temanku itu. Beruntung sekali temanku itu, dia akan sangat bahagia dari sekarang. Sedangkan aku cemburu setengah mati kepadanya.


Biinngg!


Aku dikagetkan oleh suara notif dari Hp ku. Aku meraih hp, ternyata ada pesan dari Sally.



Bell besok aku main kerumah ya :D
Sudah lama tidak main kerumahmu! :3
hehehe



Keesokan harinya sehabis sekolah Sally main kerumah. Aku mempersilahkannya duduk diruang tamu seraya aku membuatkan teh didapur. Dia duduk sambil tertawa menonton Tv. Aku membawa dan menyuguhkan teh dan membawa beberapa apel seraya ikut duduk menonton Tv.


“Hari ini tidak jalan sama Daniel Sal?”

“Tidak hari ini dia ada ekskul band, jadi aku tadi pamit pergi kerumahmu aja.”

“Ooww.”


Sambil meminum teh kemudian aku mengupas apel yang tadi aku bawa dari kulkas. Aku merasakan sesuatu dalam diriku seperti ada yang mengaduk-ngaduk dari dalam. Ini adalah api kecemburuan. Api yang menyala ketika aku tahu Daniel telah berpacaran dengan temanku ini. Entah sejak kapan aku jadi sangat membenci Sally.


“Oh iya om dan tante mana?”

“Ayah dan mama sedang keluar kota.”

“Wow cuma kita berati nih yang dirumah?”

“Iya.” Aku hanya menjawab singkat pertanyaan temanku ini.



“Wah kalau gitu kita bisa membicarakan novelmu Bell, hehe.”

“Novel?”

“Itu lho yang kamu tulis dari tahun lalu, katanya kamu mau jadi penuliskan? Tapi orang tuamu tidak mengijinkan.”

“Ohh itu. Aku sudah berhenti menulisnya.”

“Hahh?”


Sepertinya Sally sangat terkejut aku berhenti menulis novel. Tapi bagiku itu tidak terlalu penting sekarang. Sejak bertemu dengan Daniel, dialah yang selalu menjadi nomor 1 ku. Aku lihat sepertinya Sally terdiam sebentar melihatku. Aku membalas pandangannya dengan wajah ‘kenapa?’


“Wah sayang sekali Bell. Padahal kau berbakat jadi penulis, ckckck.”

“Kadang orang bisa berubah juga kok Sal, hmm.” Aku sambil memakan apel.

“Paling tidak novel cerita misterimu itu kau selesaikan dulu Bell, aku kan belum membacanya.”

“Hahaha, kamu kan tidak suka novel misteri Sal. Makanya aku berhenti menulisnya.”

“ehhh?”

“Hmm.”

“Bukannya kamu tidak suka apel ya Bell?”

“Eh?”

“….”


Kali ini lagi-lagi Sally terdiam. Kenapa dengan dia pikirku. Aku menghentikan aktifitas makan apelku karena pandangan Sally terlihat tidak seperti biasanya. Ruangan ini menjadi sunyi karena kami tidak berbicara satu sama lain. Hanya suara TV yang terdengar oleh kami berdua. Kami hanya terdiam dan melihat TV. kemudian Sally berkata.


“Sebenarnya novel yang kamu tulis itu bukan tentang misteri Bell, tapi tentang janji dan persahabatan kita.”

“???”


“Apa kamu sudah melupakan janji kita? Kamu akan terus menulis sampai kita lulus untuk menyelesaikan cerita kitakan? itu janji ki--!!!!”


Sally terlihat terkejut. Sepertinya dia terkejut melihat berita di TV. Aku yang penasaran pun segera melihat tayangan di Tv dan terperanjak melihat berita apa yang ditayangkan.



‘Telah ditemukan mayat seorang siswi dimutilasi ditempat pembuangan’

‘Hasil visum menyatakan mayat telah terbunuh dan membusuk selama seminggu lebih’

‘Namun telah ditemukan kartu identitas dari mayat siswi tersebut’

‘Mayat tersebut benama Bella S. Putri’



“Be.. Bella?” Sally terlihat sangat kaget.

“Jadi si.. siapa--!”



Cratts!!!



Tiba-tiba leher Sally terbuka tersayat dan darah mengucur dengan deras. Pisau yang kugunakan untuk mengupas apel tadi telah memotong tenggorokannya. Sally memegang lehernya tidak bisa berbicara karena tenggorokannya telah terbuka. Sally kemudian ku tendang dan dia terjatuh kesakitan sambil menangis dan melihat ke arahku. Dengan sedikit tersenyum aku pun melihatnya dengan rasa simpati. Dia ketakutan.


“Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini lagi.”

“Tapi kamu sudah benar-benar kelewatan. Bermesraan dengan Daniel KU di depan KU!”

“Aku sudah berusaha selama setahun ini agar DANIEL SADAR DAN MELIHAT KU!”



Sally masih terbaring dan melihat kearah ku dengan kesakitan. Aku menusuk kedua belah kakinya sehingga dia tidak bisa berjalan. Wajah cantiknya sekarang dipenuhi dengan air mata menatap horor ke arahku.



“Waktu kelas satu aku satu kelas dengan Daniel, aku sangat senang. Setiap hari aku termotivasi. Setiap hari aku semangat latihan berenang.”


“Namun dikelas dua aku terpisahkan dari Daniel!!!” “Aku benar-benar sangat sedih!!”

Aku berjalan pelan mendekati Sally yang dari tadi berusaha untuk menggeliat keluar dari ruang tamu.


“Tapi saat aku tau kalian berdua sekelas dengannya aku sedikit senang.”

“Sekalian benci dengan BELLA yang duduk BERSEBELAHAN DENGANNYA!”


“Tapi tidak apa-apa itu adalah kesempatanku.” “Aku berhasil mengambil tempatnya dan bisa duduk bersebelahan dengan Daniel ku. hhe.” “Cukup susah untuk mengubah diri tapi aku harus terus berada didekat Daniel ku!”


“Saat aku tahu kau jadian dengannya aku sangat cemburu! aku benar-benar ingin menamparmu saat kau dengan wajah bahagia mengatakan hal itu!”


“Namun sekarang aku juga bersyukur dengan situasimu itu” Aku tersenyum sinis kepada Sally.


“Selamat tinggal.”



……….





Esok harinya aku berjalan keluar dari ruang kelasku. Perlahan aku keluar menuju gerbang sekolahku. Sebelum keluar disana ada seorang cowok pujaan hatiku yang sedang berdiri melihat kearahku. Aku tersipu malu karena pandangannya tersebut.



“Hai Daniel.”

“Hai. Gak ada kegiatan ekskul?”

“Hari ini tidak ada, hehe.”

“Ohh ok. Apa cuma perasaanku ya rasanya kamu lebih tinggi sedikit.”

“Mungkin perasaanmu saja. Ayo kita berangkat!” Aku pun menggandeng tangan Daniel seraya berjalan keluar dari pagar sekolah.

“Hahaha Sally ga sabaran nih.”

“Biarin weeek.”


Hari ini aku sangat bahagia. Cowok yang aku suka dari satu tahun yang lalu. Cowok yang dulu hanya bisa ku lihat dari kejauhan. Cowok yang selalu membuat dadaku berdebar-debar. Akhirnya sekarang sangat dekat denganku. Ya sekarang kami telah berpacaran.



-Happy End-



Ramd
17 Februari 2016
wahyu.rama21@gmail.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar