Cowok yang Aku Suka
Sebuah Cerpen
By Ramd
Sebuah Cerpen
By Ramd
“Bella
ayo makan ke kantin.”
“Eh
baik, tunggu Sal!”
Sebelum keluar dari kelas
aku menengok sekali lagi kebelakang melihat seseorang yang selalu menggetarkan
hatiku. Seseorang itu adalah cowok bernama Daniel. Postur tubuhnya tinggi, senyuman dan
pandangannya selalu membuat hatiku berdegup amat kencang. Dia adalah
pangeranku. Dia adalah cahaya yang menerangi hari-hari ku. Dia adalah cowok
yang aku suka.
Aku telah jatuh cinta
pada Daniel sejak pertama kali bertemu dengannya di kelas 1. Sekarang aku kelas
2 dan duduk bersebelahan dengannya. Selama setahun ini aku masih belum bisa
menyatakan perasaanku padanya. Disamping takut ditolak aku juga sangat malu
kalau berbicara dengannya. Terdiam sambil memikirkan Daniel tiba-tiba Sally
menarik lenganku.
“Ayo
Bell~ nanti waktu istirahatnya habis.”
“Baik
Sal tunggu sebentar.”
Sally dengan tidak sabar menarik
tanganku sambil berjalan menuju ke kantin. Temanku yang satu ini sangat senang
sekali kalau urusan makan. Sally sangat cantik, penampilannya sangat rapi dan
dia juga sangat pintar. Aku juga senang berteman dengannya karena dia orangnya
ramah. Aku pun segera beranjak dari tempat dudukku mengikuti Sally.
Perjalanan dari kelas
menuju kantin pun pikiranku terus di penuhi dengan Daniel. Saat makan pun aku
terus saja terbayang olehnya. Sally yang memanggilku pun kadang aku tidak
sadar.
“Bell,
nanti sore ekskul renang datang ya.”
“loh
hari ini latihan?”
“Iya
Bell, dua bulan lagi kana ada lomba. Kamu harus ikut latihan. Member kita
sekarang banyak yang jarang datang”
“Loh
banyak yang keluar? Bukannya masih ada si Linda ya? Dia kan yang paling rajin
latihan.”
“Nah
itu masalahnya. Tadi aku datang ke kelasnya katanya dia sudah tidak masuk sekolah
seminggu ini.”
“Waduh
kenapa ya? padahal perlombaan tinggal 2 bulan lagi.”
“Makanya
Bell, sore ini kamu datang ya.”
“Okee
nanti abis kelas aku langsung ke kolam renang.”
“Hehehe
makasih Bell” Sally memelukku sangat erat.
Memang susah kalau punya
teman ketua ekskul renang. Aku tidak bisa menolak permintaan Sally apalagi
dengan wajah memelas andalannya itu. Aku benar-benar dikalahkan olehnya.
Sepulang sekolah aku
disuruh guru untuk mengantarkan kertas laporan minggu ini ke ruang guru. Aku
berjalan cepat mengantarkan laporan-laporan ini karena aku ingin segera menuju
kolam renang. Aku pun semakin bergegas sambil sedikit berlari dikoridor dan
saat aku berbelok ke kiri tiba-tiba aku menubruk seseorang.
Bruakk!
Lembaran laporan pun
berserakan dilantai. Aku terjatuh sambil agak panik dan ingin berdiri untuk
segera mengumpulkan lembaran tadi, namun setelah melihat siapa gerangan yang ku
tubruk tadi. Alangkah kagetnya aku ternyata orang itu adalah Daniel. Hatiku
berdegup dan aku semakin panik dibuat olehnya.
“Maaf
Bella, Kamu bisa berdiri?” Daniel mengulurkan tangannya kepada
aku yang masih shock terduduk.
“Ahh?!?
Iya!! Maaf ya Daniel! Tadi aku lari-lari!” Aku menggapai
tangannya dan berdiri.
“Tidak
apa-apa Bell, kamu tidak apa-apa kan ya?”
“Iya
tidak apa-apa makasih ya. Aku tadi mau ke ruang guru, kamu mau kemana Dan?”
“Ada
barangku ketinggalan di Kelas.”
Aku benar-benar bahagia
sore ini. Bisa berbicara dengan Daniel, bukan cuma itu dia juga menolongku
mengumpulkan lembaran yang tadi berserakan. Aku tidak akan lupa saat tadi dia
mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Oh tuhan aku tidak akan mencuci
tangan ini hehehe~ Sambil berjalan menuju kolam renang aku tersenyum juga
merasakan perasaan hangat karena hatiku sangat gembira. Latihan sore itu pun
aku sangat bersemangat. Anggota yang lainnya takjub melihat progress ku dan
yang paling gembira melihatku adalah temanku Sally. Tidak terasa latihan
berakhir dan sudah waktunya untuk pulang.
“Yeee
Bella kelihatannya senang banget ya hari ini~ Kalau latihannya sebagus ini
bisa-bisa kamu bisa melampaui Linda hahaha.”
“Hmm
aku terkena suntikan motivasi tadi.”
“Loh
kamu sudah jadian sama pangeran misteriusmu itu?”
“Bukaaan,
tadi aku cuma tidak sengaja bertemu dengannya.”
“Ciee
bagusslaah Bell, ngomong-ngomong siapa sih pangeranmu itu?”
“Hehe
nanti kalau aku sudah menyatakan perasaanku aku kasih tau deh.”
Aku agak malu.
“Oke
janji ya!”
“Sal
kamu juga terlihat senang sejak mulai latihan tadi, kena suntikan motivasi
juga? hmm.”
“Tau
aja kamu Bell, hahaha – Sebenarnya lebih besar dari itu Bell.”
“Ehh
apaan Sal? Aku penasaran nih?!”
“Itu….
hehe jangan bilang siapa-siapa ya, Aku habis pulang sekolah tadi ditembak sama
Daniel!!”
“Eh?”
“Kami
Jadian sekarang Bell.”
“….”
Aku sangat kaget dan
shock mendengar apa yang dikatakan Sally. Padahal baru beberapa saat tadi aku
masih sangat bahagia. Tetapi perasaan itu kini tiba-tiba telah lenyap. Dadaku
terasa sesak dan kata-kata susah keluar dari mulutku.
“Ka....
kamu jadian sama Daniel?”
“Iya
Bell sekarang kami sudah resmi pacaran.”
“O..
ohh selamat ya Sal.”
Aku hanya tersenyum palsu
menyembunyikan tangisan didalam hatiku. Aku menjulurkan tangan ingin
menyelamatinya. Sally dengan cepat langsung memelukku dia terlihat sangat
bahagia. Melihat betapa bahagianya dirinya saat itu hatiku makin hancur
berkeping-keping.
Besoknya karena hari
libur aku pergi keluar untuk berbelanja. Kepalaku terasa berat hari ini karena
malam kemarin aku tidak bisa tidur. Aku terus terpikir apa perkataan Sally
kemarin tentang dia jadian dengan Daniel.
Diperjalan pulang aku tidak sengaja berpapasan
dengan Sally. Dia keluar dari café tidak jauh dari depanku. Dia menyadariku dan
memanggilku. Saat aku ingin memanggil balik dirinya tiba-tiba suaraku tertahan
melihat seorang cowok juga keluar dari café itu. Ya cowok itu adalah Daniel.
Mereka menghampiriku dan menyapaku. Sally memperkenalkan aku kepada Daniel
kalau aku adalah teman terbaik baginya. Saat itu aku hampir menangis tapi
ternyata aktingku sangat baik sehingga mereka tidak menyadarinya.
Dirumah, tepatnya
dikamarku aku pun menangis kembali. Mengingat tadi Sally sangat mesra dengan
Daniel. Rasa sakit didada terus naik ke mataku membuat air mata terus mengalir.
Namun ditengah isak tangisku ini aku juga sedikit tertawa. Di dalam hatiku yang
tercabik-cabik ini ternyata aku masih bisa merasakan sedikit kebahagian temanku
itu. Beruntung sekali temanku itu, dia akan sangat bahagia dari sekarang.
Sedangkan aku cemburu setengah mati kepadanya.
Biinngg!
Aku dikagetkan oleh suara
notif dari Hp ku. Aku meraih hp, ternyata ada pesan dari Sally.
Bell
besok aku main kerumah ya :D
Sudah lama tidak main kerumahmu! :3
hehehe
Sudah lama tidak main kerumahmu! :3
hehehe
Keesokan harinya sehabis
sekolah Sally main kerumah. Aku mempersilahkannya duduk diruang tamu seraya aku
membuatkan teh didapur. Dia duduk sambil tertawa menonton Tv. Aku membawa dan
menyuguhkan teh dan membawa beberapa apel seraya ikut duduk menonton Tv.
“Hari
ini tidak jalan sama Daniel Sal?”
“Tidak
hari ini dia ada ekskul band, jadi aku tadi pamit pergi kerumahmu aja.”
“Ooww.”
Sambil meminum teh
kemudian aku mengupas apel yang tadi aku bawa dari kulkas. Aku merasakan sesuatu
dalam diriku seperti ada yang mengaduk-ngaduk dari dalam. Ini adalah api
kecemburuan. Api yang menyala ketika aku tahu Daniel telah berpacaran dengan
temanku ini. Entah sejak kapan aku jadi sangat membenci Sally.
“Oh
iya om dan tante mana?”
“Ayah
dan mama sedang keluar kota.”
“Wow
cuma kita berati nih yang dirumah?”
“Iya.”
Aku hanya menjawab singkat pertanyaan temanku ini.
“Wah
kalau gitu kita bisa membicarakan novelmu Bell, hehe.”
“Novel?”
“Itu
lho yang kamu tulis dari tahun lalu, katanya kamu mau jadi penuliskan? Tapi
orang tuamu tidak mengijinkan.”
“Ohh
itu. Aku sudah berhenti menulisnya.”
“Hahh?”
Sepertinya Sally sangat
terkejut aku berhenti menulis novel. Tapi bagiku itu tidak terlalu penting
sekarang. Sejak bertemu dengan Daniel, dialah yang selalu menjadi nomor 1 ku.
Aku lihat sepertinya Sally terdiam sebentar melihatku. Aku membalas
pandangannya dengan wajah ‘kenapa?’
“Wah
sayang sekali Bell. Padahal kau berbakat jadi penulis, ckckck.”
“Kadang
orang bisa berubah juga kok Sal, hmm.” Aku sambil memakan apel.
“Paling
tidak novel cerita misterimu itu kau selesaikan dulu Bell, aku kan belum
membacanya.”
“Hahaha,
kamu kan tidak suka novel misteri Sal. Makanya aku berhenti menulisnya.”
“ehhh?”
“Hmm.”
“Bukannya
kamu tidak suka apel ya Bell?”
“Eh?”
“….”
Kali ini lagi-lagi Sally
terdiam. Kenapa dengan dia pikirku. Aku menghentikan aktifitas makan apelku
karena pandangan Sally terlihat tidak seperti biasanya. Ruangan ini menjadi
sunyi karena kami tidak berbicara satu sama lain. Hanya suara TV yang terdengar
oleh kami berdua. Kami hanya terdiam dan melihat TV. kemudian Sally berkata.
“Sebenarnya
novel yang kamu tulis itu bukan tentang misteri Bell, tapi tentang janji dan
persahabatan kita.”
“???”
“Apa
kamu sudah melupakan janji kita? Kamu akan terus menulis sampai kita lulus
untuk menyelesaikan cerita kitakan? itu janji ki--!!!!”
Sally terlihat terkejut.
Sepertinya dia terkejut melihat berita di TV. Aku yang penasaran pun segera
melihat tayangan di Tv dan terperanjak melihat berita apa yang ditayangkan.
‘Telah
ditemukan mayat seorang siswi dimutilasi ditempat pembuangan’
‘Hasil
visum menyatakan mayat telah terbunuh dan membusuk selama seminggu lebih’
‘Namun
telah ditemukan kartu identitas dari mayat siswi tersebut’
‘Mayat
tersebut benama Bella S. Putri’
“Be..
Bella?” Sally terlihat sangat kaget.
“Jadi
si.. siapa--!”
Cratts!!!
Tiba-tiba leher Sally
terbuka tersayat dan darah mengucur dengan deras. Pisau yang kugunakan untuk
mengupas apel tadi telah memotong tenggorokannya. Sally memegang lehernya tidak
bisa berbicara karena tenggorokannya telah terbuka. Sally kemudian ku tendang
dan dia terjatuh kesakitan sambil menangis dan melihat ke arahku. Dengan
sedikit tersenyum aku pun melihatnya dengan rasa simpati. Dia ketakutan.
“Sebenarnya
aku tidak ingin melakukan ini lagi.”
“Tapi
kamu sudah benar-benar kelewatan. Bermesraan dengan Daniel KU di depan KU!”
“Aku
sudah berusaha selama setahun ini agar DANIEL SADAR DAN MELIHAT KU!”
Sally masih terbaring dan
melihat kearah ku dengan kesakitan. Aku menusuk kedua belah kakinya sehingga
dia tidak bisa berjalan. Wajah cantiknya sekarang dipenuhi dengan air mata
menatap horor ke arahku.
“Waktu
kelas satu aku satu kelas dengan Daniel, aku sangat senang. Setiap hari aku termotivasi.
Setiap hari aku semangat latihan berenang.”
“Namun
dikelas dua aku terpisahkan dari Daniel!!!” “Aku benar-benar sangat sedih!!”
Aku
berjalan pelan mendekati Sally yang dari tadi berusaha untuk menggeliat keluar
dari ruang tamu.
“Tapi
saat aku tau kalian berdua sekelas dengannya aku sedikit senang.”
“Sekalian
benci dengan BELLA yang duduk BERSEBELAHAN DENGANNYA!”
“Tapi
tidak apa-apa itu adalah kesempatanku.” “Aku berhasil mengambil tempatnya dan
bisa duduk bersebelahan dengan Daniel ku. hhe.” “Cukup susah untuk mengubah
diri tapi aku harus terus berada didekat Daniel ku!”
“Saat
aku tahu kau jadian dengannya aku sangat cemburu! aku benar-benar ingin
menamparmu saat kau dengan wajah bahagia mengatakan hal itu!”
“Namun
sekarang aku juga bersyukur dengan situasimu itu” Aku tersenyum sinis kepada
Sally.
“Selamat
tinggal.”
……….
Esok harinya aku berjalan
keluar dari ruang kelasku. Perlahan aku keluar menuju gerbang sekolahku.
Sebelum keluar disana ada seorang cowok pujaan hatiku yang sedang berdiri melihat
kearahku. Aku tersipu malu karena pandangannya tersebut.
“Hai
Daniel.”
“Hai.
Gak ada kegiatan ekskul?”
“Hari
ini tidak ada, hehe.”
“Ohh
ok. Apa cuma perasaanku ya rasanya kamu lebih tinggi sedikit.”
“Mungkin
perasaanmu saja. Ayo kita berangkat!” Aku pun menggandeng
tangan Daniel seraya berjalan keluar dari pagar sekolah.
“Hahaha
Sally ga sabaran nih.”
“Biarin
weeek.”
Hari ini aku sangat
bahagia. Cowok yang aku suka dari satu tahun yang lalu. Cowok yang dulu hanya
bisa ku lihat dari kejauhan. Cowok yang selalu membuat dadaku berdebar-debar.
Akhirnya sekarang sangat dekat denganku. Ya sekarang kami telah berpacaran.
-Happy End-
Ramd
17 Februari 2016
wahyu.rama21@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar